Hm, aku tak terlalu mengerti perasaanku saat ini. Aku begitu ingin menulis tentang ibu saat ini juga, padahal kurasa aku tidak terinspirasi sama sekali tentang hal tersebut. Namun, sambil menulisnya, air mataku bercucuran. Aku tak mengerti kenapa. Bukankah seharusnya aku bangga pada ibuku? Entahlah. Bayangkan, betapa memalukannya, aku menangis di warnet sambil mengetik. Untung warnetnya agak tertutup, jadi tak ada yang memperhatikan.
Mungkin kalian tidak mengerti ibuku, seorang ibu rumah tangga biasa. Dia bukan seorang selebritis, pengarang terkenal, pemimpin negara, peraih nobel, atau apapun juga. Hanya seorang ibu rumah tangga biasa, sama seperti ibumu dan ibu orang lain pada umumnya. Namun bagiku, Ibu seorang yang lluar biasa.
Kalian tahu? Hidup ibuku dihabiskan dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan membantu menjaga toko bersama ayahku. Kelihatannya seperti seorang ibu rumah tangga biasa. Tapi kalau kalian perhatikan kesehariannya, kalian akan menyadari, ibuku tak pernah berhenti bekerja. Dia akan berlarian dari dapur ke toko, dan juga sebaliknya. Namun tak pernah ia mengeluh. Bahkan ekspresi wajahnya tak pernah berubah, selalu tenang. Ia tidak tersenyum sepanjang hari, seperti tokoh ibu ideal di novel atau film. Tapi, tak ada lelah di wajahnya. Ia mengerjakan semuanya tanpa keluhan, dan tanpa ada rasa lelah terpampang di wajahnya. Itulah keseharinnya. Seorang ibu rumah tangga biasa, dengan nyawa empat anak dan ayah mereka di pundaknya.
Ketika aku masih kecil, aku tidak pernah benar – benar menyadari makna seorang ibu. Yang aku tahu, ada sorang wanita, yang selalu melindungiku, baik dari orang lain maupun dari diriku sendiri, dan selalu menyayangiku. Kadang – kadang dia marah padaku, dan kadang – kadang aku marah padanya, tanpa menyadari sebenarnya semua untuk kebaikan diriku sendiri. Aku sering membuatnya kecewa, marah, sedih, dan lain sebagainya. Tapi bila dia membuatku marah? Hanya saat aku mementingkan ego anak kecilku.
Saat aku sakit, dia orang yang paling menjagaku. Dia tidak pernah menyiratkan wajah cemas, tapi dialah orang yang menungguiku semalaman saat aku tidur. Tapi apakah aku pernah berterima kasih padanya?
Dialah yang paling tahu diriku. Baik buruknya aku. Dia tahu semua tentang diriku. Saat aku tersandung dalam hidupku, dialah yang menyemangatiku untuk berdiri. Dia tidak pernah membantuku. Itulah yang membuat aku mandiri. Saat aku sukses, dia tak pernah memujiku secara berlebihan. Itulah yang membuatku tidak sombong akan diriku.
Saat aku beranjak remaja, dia tak pernah khawatir saat aku harus meninggalkan rumah. Mengapa? Dia percaya padaku. Mungkinkah aku mengkhianatinya?
Saat aku menetapkan hatiku untuk masuk kedokteran, dengan diam – diam dia menyimpan uang, untuk biaya sekolahku. Dan aku tahu, saat itu keuangan kami sedang mepet. Harga jeruk jatuh, sehingga kami sepi pembeli. Maklum, kami mengandalkan para petani yang akan memperbaiki mobilnya.
Kini, sudah tujuh belas tahun aku dibimbingnya, namun aku belum membalas satu pun kebaikannya. Yang bisa kubuat hanya tulisan sederhana ini, yang bahkan belum mewakili seperseratus kebaikannya. Yang bahkan mungkin tak pernah terbaca olehnya.
Aku tak tahan lagi. Air mataku terus bercucuran saat menulisnya. Munkin lain kali baru kulanjutkan.