Laut t’lah tampakkan marahnya
Lengan Barat t’lah disapunya
Raga Utama tak luput darinya
Tawa berganti duka
hanya dalam kejapan mata
Nyawa seakan tak berharga

Bumi t’lah ungkapkan murkanya
Pekik marahnya
Belatinya t’lah dihunjamkan berkali-kali
Tawa berganti duka
Hanya dalam degupan jantung
Jiwa seakan tak berharga

Langit t’lah ucapkan kutuknya
Kutuk tak bernama t’lah dibuka
Kutuk terkunci t’lah kembali
BUmi pertiwi t’lah disapu berkali-kali
Tawa berganti duka
Hanya sekejap saja
Siksa dunia t’lah hampiri kita
Siksa neraka tak jauh bedanya

Ibu Pertiw kini sedang berduka
Putra-putrinya direnggut nyawanya
Di hadapan matanya
Bagai rumput tak berharga
Mati dibas Sang Kematian
Ibu Pertiwi hanya bisa menatap
Ibu Pertiwi hanya bisa meratap

Apa dosa kami
Apa salah kami
Mengapa selalu kami
Yang menerima amukmu?

Aku tak mengerti lagi
Aku tak peduli lagi
Aku tak mampu lagi
Aku tak tahu lagi

Aku hanya bisa menatap
Aku hanya bisa meratap