Dua kali aku menabur benih
Tapi, selalu mati sebelum saatnya
Apa-apaan ini!
Cukup sudah!

Benihku mati sebelum mekar
tak mampu hidup hunjamkan akar
Apakah tanah yang salah?
Apakah benihnya yang salah?
Ataukah
Diriku yang salah?

Pertama kali aku menabur benih
Lahan kosong dan bersih
Tunas mulai tumbuh dari benih
Kuncup mulai mengintip dari ujung yang rapih

Namun tanpa aku sadari
Tanahku yang indah itu
Retak dan jatuhkan bungaku
Yang bahkan belum intipkan warna indah di balik hijau kuncupnya
Ke ujung tak berdasar di bawah sana

Mengapa ini bisa terjadi?
Apakah karena tanah ini
Kupilih tanpa peduli
Keberadaan benih-benih lain?
Yang membuat
Benih itu mati?
Bahkan sebelum tunas bersemi?

Ataukah benar karena munculnya belukar
Yang telah mengoyak akar
Dari bungaku yang bahkan belum mekar?

Aku tidak tahu
Sebab tanah itu tetap membisu
Atau sekedar jawaban palsu
Aku tidak peduli lagi
Tak akan kupikirkan lagi

Kali kedua aku menabur benih
Bodohnya aku
Tak punya mata
Tak punya hati
Tanah yang kupilih ternyata telah berbunga!
Memang sang bunga hanya membisu
Karena tidak tahu
Namun tanah melontarkan benihku
Yang akhirnya terpuruk di celah batu
Lalu mati
Ternyata aku terlambat
Hanya dua matahari yang lalu

Hahahahahahaha….
Aku seperti orang gila
Cukup sudah!
Semua harus diubah!
Musim semi telah berlalu
Musim panas takkan muncul
Tiada musim panas, tiada musim gugur
Kini, musim dingin telah bangun dari tidur

Bukan, bukan musim dingin
Lebih buruk dari itu
Badai telah tiba

Kita lihat saja nanti
Akankah ada mentari
Yang akan bangkitkan musim semi?

Akankah aku sunyi, sepi, sendiri?
Seperti namaku, Sang mentari pagi?
Diharapkan setiap orang di dunia
Namun tak ada yang menginginkannya
Karena takut akan apinya?
Ataukah temanku sang rembulan?
Yang bahkan takkan
Pernah kulihat, parasnya yang menawan?

Aku tidak tahu lagi
Dua kali dalam satu musim semi
Tanpa musim panas tuk kagumi dirinya
Atau musim gugur tuk memanen hasilnya
Cukup sudah!
Aku berhenti
Akankah ada musim semi tahun depan?
Tanyakan pada musim dingin

Dua kali, cukup sudah!