Mewakili jutaan warga Tionghoa-Indonesia, izinkan aku memberikan beberapa kata di bawah ini.

Aku, terlahir dengan nama Chen Xiaoyang, yang berarti Matahari yang muncul pada awal hari. Nama yang bagus bukan? Namun, nama tersebut dihapus secara paksa dari hukum, dan diganti menjadi sepotong nama Rodri Tanoto. Tanoto, bentuk pengindonesiaan dari Tan, yang merupakan bahasa daerah dari Chen, seperti juga Wijaya, Chandra, Tanamas, Tanaka, Halim, dan puluhan nama lainnya lahir karena keterpaksaan, agar marga, yang merupakan jiwa dari seorang Tionghoa dapat tetap terukir di nama Indonesia mereka.

Beratus tahun yang lalu, saat Belanda masih menguasai Bumi Nusantara ini, kaum Tionghoa menduduki posisi kasta kedua, di bawah Belanda dan di atas kaum pribumi. Well, tidak hanya kaum Tionghoa. Semua kaum “Timur Jauh” menduduki posisi yang sama. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sederhana saja, karena kemampuan bisnis mereka, yang ingin dimanfaatkan pemerintah Hindia Belanda saat itu. Kaum pribumi yang tidak berpendidikan, menduduki posisi terakhir. Bibit kecemburuan diskriminatif mulai tertanam.

Di tangan salah seorang presiden kita yang tidak usah disebutkan namanya, lahirlah berbagai kebijakan yang sifatnya: menekan kaum Tionghoa (perhatikan di sini penggunaan kata kaum, bukan suku, dan juga bukan ras. Sebab, Tionghoa sendiri terdiri atas berbagai macam suku, namun merupakan bagian dari Ras Asia). Muncullah kebijakan larangan penggunaan nama berbau Tionghoa. Dilarang puluhan tradisi Tionghoa yang turun temurun, salah satunya yang paling terkenal, Barongsai (Tarian Singa). Ratusan kelenteng yang bahkan sudah berdiri sebelum Indonesia merdeka terancam hancur, dan terpaksa disamarkan menjadi Vihara dengan mendirikan sebuah Dhammasala dengan Buddharupangnya di dalamnya. Batasan nama kelenteng dan vihara menjadi kabur di Indonesia. Bahasa Tionghoa yang begitu beragam, Hokkian, Tiociu, Khek (atau Hakka), Hailok Hong, Konghu (Kanton), dan beragam bahasa lainnya dipaksa untuk lenyap dari bumi pertiwi ini. Strategi terakhir ini terlaksana hanya di Tanah Jawa, di daerah lain, bahasa daerah masing-masing masih berkembang, walaupun telah kehilangan bentuk aslinya. Tragis. Hanya karena satu hal; komunisme, yang bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan Tionghoa Indonesia. Bahkan, mereka dipaksa memilih lima agama yang diakui pemerintah, dengan harapan, mereka kehilangan tradisi mereka.

Satu keputusan lain yang sangat kejam. Kaum Tionghoa hanya bisa berkarya di bidang ekonomi. Politik, militer, dan lain sebagainya diharamkan bagi mereka. Berapa kaum Tionghoa yang kalian tahu memiliki posisi di bidang politik di zaman itu? Tidak ada. Bahkan kaum militer hanya segelintir, itupun hanya di angkatan tertentu. Akhirnya, kaum Tionghoa memusatkan karya mereka di bidang ekonomi, dan inilah hasilnya: mayoritas pemegang perekonomian Indonesia adalah kaum Tionghoa, yang bahkan membuat diskriminasi semakin kejam, stereotip “Cina pasti kaya” melekat erat di pikiran kaum fasis. Cemburu yang diskriminatif ini memuncak, justru di zaman keruntuhan penjahat besar diskriminasi Indonesia, tepatnya 14-15 Mei 1998.

Siapa yang masih ingat kejadian itu? Pemerintah menolak adanya hal tersebut. Akibatnya, tidak ada pemeriksaan. Mahasiswa, yang mengaku pembawa suara rakyat, hanya merayakan gugurnya dua “Pahlawan Demokrasi” setiap tahunnya, mengelu-elukan Keluarbiasaan Mahasiswa pada Mei 1998, namun, adakah mereka terpikir kejadian seminggu sebelum kejadian Trisakti itu terjadi? Hm. Tanya diri anda masing-masing.

Kini, di tangan beberapa presiden setelahnya, kebijakan diskriminatif itu dihapuskan. Budaya Tionghoa mulai menghiasi warna ragam budaya Indonesia. Kata Cina di”haram”kan karena telah berkonotasi negatif dan digant menjadi Tionghoa dan Tiongkok. Namun, luka telah tertoreh. Kaum tua, yang paling merasakan terinjak-injaknya mereka, menolak mengakui diri sebagai orang Indonesia. Kaum muda, yang tidak tahu apa-apa, tenggelam dalam dunia gemerlapnya budaya Barat dan bahkan tidak peduli lagi dengan tradisi. Hanya segelintir orang yang masih bangga mengusung nama Tionghoa-Indonesia, sebuah komunitas yang hampir punah.

Yang paling tragis adalah lahirnya “agama” baru di Indonesia. Agama Kong Hu Cu. Sebuah nama rekaan yang diusung untuk menampung serangkaian tradisi Tionghoa agar tetap eksis, tanpa mereka harus terikat di lima agama yang diakui pada awalnya.

Bibit diskriminasi masih tersebar. Mampukah kita memberantasnya? Amerika tidak mampu memberantas itu. Mampukah Indonesia?

Memperingati Tahun Baru Imlek 2560

Rodri Chen