Dulunya http://zoethaeque.wordpress.com, namun untuk kemudahan mengingat alamat, maka dipindah kemari.

Darah berarti intinya
Perak berarti mulia
Pelangi berarti aneka warnanya

Aku menangkap seekor pelangi dengan panca indera
Menggores kakinya dan mencuri setetes darahnya dengan jiwa
Menyaring permukaan peraknya dengan asa
Mengambil Darah Perak Pelangi dan menjadikannya tinta

Menggoresnya dengan bulu pena
Di atas kanvas putih maya tujuh aksara
Lalu membentangkannya di atas langit putih bernama kata

Darah Perak Pelangi
Goresan tinta aneka warna
Melukiskan hidup yang juga beraneka warna
Dari sudut pandang saya
Hanya sekedar celoteh belaka

Selamat membaca
Jangan lupa meninggalkan tinta maya anda
Walau sekedar sapa belaka

亲爱的爸妈:

今天,我毕业了。今天,我正式的持有了一个曾有的人文专业。今天,我当一名医生了。这一切都是您们两位的功劳。

而我这个不孝顺的儿子,不知该如何感谢您们。我从来不知道您们为今天坐在这儿,几分之前说了誓言的我,付出所有的辛劳。那些事儿,我完全不知道。

我从来不知道您们怎么培养我, 怎么教我生命的意义, 让我成为现在的我。我还是无礼, 不懂事儿的孩子。让您们生气,让您们伤心,让您们担心的孩子。

是您们让我潇洒地站在他们中间,下定决心为人民服务。我的骄傲,是您们让我找到的。但可惜,我这个不孝顺的儿子,都不知那些事儿。

连这日子以后, 您们还不能轻松的呼吸。您们幼子还需要您们的指导,不知到什么时候。原谅我吧。

但是今天,请您们让我把这个词说出来,每天用我第一个呼吸该说的词:

谢谢。

您们不孝顺的儿子,

陳曉陽

===============================================================================

Ayah, Ibu,

Hari ini aku wisuda. Hari ini secara resmi aku memegang salah satu profesi humanistik yang pernah ada. Hari ini, aku menjadi seorang dokter. Dan itu semua, adalah jerih payah kalian berdua.

Dan aku, anak yang tidak berbakti ini. Aku tidak tahu bagaimana aku harus berterima kasih.

Aku tidak pernah tahu segala jerih payah kalian agar aku, hari ini, bisa duduk di sini, baru beberapa menit yang lalu mengucapkan sumpah. Semua itu, aku sama sekali tidak tahu.

Aku tidak pernah tahu bagaimana kalian membesarkan aku, mengajarkanku arti kehidupan, membuatku menjadi aku yang sekarang. Aku masihlah seorang anak kurang ajar yang tidak mengerti itu semua. Anak yang membuat kalian marah, membuat kalian sedih, membuat kalian khawatir.

Kalianlah yang membuatku bisa berdiri gagah di antara mereka ini, bertekad dalam hati untuk mengabdi pada rakyat. Kalianlah yang membuatku menemukan nilai-nilai yang kubanggakan.

Namun sayang, aku, anak yang tidak berbakti ini, tidak tahu itu semua.

Bahkan setelah hari ini pun, kalian masih belum bisa bernapas lega. Anak bungsumu ini masih memerlukan bimbinganmu, entah sampai kapan. Maafkan aku.

Namun hari ini, izinkanlah aku mengucapkan kata, kata yang seharusnya kuucapkan dengan napas pertamaku setiap harinya.

Terima kasih.

Anakmu yang tidak berbakti,

Chen Xiaoyang

Terima kasih kepada Shula, terjemahanmu telah membuat ayah ibuku menangis sesenggukan (lebay)

================================================================================


Baca: <Aku akan selalu menjadi Yang (namaku) kecil kalian><Terima Kasih><Chen Xiaoyang>

Saya pribadi bukanlah orang yang benar-benar akrab dengan sosok Steven Wijata. Bukan karena saya dan dia ada sesuatu hal yang tidak menyenangkan, namun lebih karena waktu dan tempat yang berbeda. Namun, saya yakin, satu angkatan 2006 mengenal, menyayangi, dan kehilangan dirinya. Oleh karena itu, izinkan saya mencurahkan kenangan saya tentangnya, untuk meyakinkan dirinya di sana bahwa kami semua akan selalu ingat pada dirinya, salah satu dokter angkatan 2006.

Semua orang jelas mengenal sosok Steven Wijata pada awal masuk. Sosok gempal, putih, tinggi besar bukanlah sosok yang sulit dilupakan. Sosoknya persis seperti anak kelebihan gizi yang dimanja dengan lemak dan karbohidrat tinggi. Mungkin, seperti layaknya banyak anak-anak baru masuk lainnya, waktu antara SMA dan kuliah terlalu senggang baginya.

Semua orang juga, pada akhirnya, perlahan melupakan sosok Steven Wijata, digantikan oleh sosok luar biasa yang namanya dipangkas dengan hati yang bengis oleh oknum tidak bertanggung jawab menjadi satu huruf saja. W. W, yang cool, yang keren, yang peduli, yang pintar, yang rajin, yang religius, dan semua label positif lainnya.

W mungkin adalah salah satu dari segelintir pria di angkatan 2006 yang bisa dikatakan “keren abis”. Yah, semua orang tahu, dia berhasil membentuk tubuhnya dari sosok gempal seperti kelebihan gizi menjadi sosok besar dan berbadan “jadi”, alias “hup-hup”, kalau meniru istilah kaum estrogen 2006. Hal itu jelas membuat stres para kaum pria, karena sekarang para wanita seakan menjadi satelit di sekitar W.

Namun membahas W dari sekedar tubuh dan tampang jelas hanya sekedar kulit belaka. Karena kepribadiannya juga merupakan sosok Role Model bagi orang lain. Tak perlu dipungkiri lagi, W menduduki jajaran atas dalam perihal IPK dan tolak ukur penilaian akademis lainnya. Hal ini bukan saja karena didukung oleh kepintarannya, namun karena ia RAJIN. Rajin yang menggunakan huruf besar, karena yah, dia benar-benar rajin. Sudah ganteng, badan jadi, pintar, rajin pula, kurang apa lagi dia?

Di balik sosoknya yang luar biasa tersebut, tak disangka ia seorang sosok yang kalem (tidak seperti saya), ramah (juga tidak seperti saya), dan juga lembut (mana mungkin seperti saya?). Yah, ia adalah sosok impian semua wanita untuk dijadikan suami, dan sosok yang dicemburui semua pria. Karena, di balik semua hal tersebut, ia masih, dan masih sampai detik ini, mencintai Tuhan.

Hal yang membuat saya seratus persen yakin, pemberitaan media yang berat sebelah dan tidak sopan tersebut tidak benar. Hal yang juga membuat ia memiliki tangan dan hati yang peduli, peduli pada teman-temannya, peduli pada keluarganya, peduli pada sesama, peduli pada dunia. Ia adalah sosok role model angkatan kami, sosok yang akan menjadi panutan kami.

Satu hal lagi yang membuat aura W begitu bercahaya adalah semangatnya yang memang begitu berapi-api, begitu optimis, dan penuh impian. Impian yang mulia, impian yang, lagi-lagi, kembali pada hatinya yang peduli. Menyerah adalah kata-kata yang tak dapat dalam kamusnya. Semangatnya dalam berbakti, bagi sahabat, bagi pasien, bagi masyarakat, bagi orang tua, bagi keluarga, semuanya didasari akan cintanya pada Tuhan dan keluarganya.

Ya, W, adalah sosok pria yang begitu mencintai keluarganya.

Sosoknya yang luar biasa itulah yang membuat kami semua begitu berduka, begitu kehilangan.  24 September tidak akan menjadi hari yang menyenangkan bagi kami. 24 September juga tidak akan menjadi hari penuh duka. Bagi kami, 24 September, setiap tahun, adalah Remembrance day. Kita mungkin tidak akan pernah tahu, apa kata-kata terakhir W. Tapi seseorang telah membuat kita menoleh pada status BB W yang terakhir, yakni tagline dari PLD kita. Devotio non mox Promissio, Pengabdian bukan sekedar janji. Dan 24 september, setiap tahunnya, akan menjadi Remembrance Day bagi kita semua, ketika kita sudah menjadi dokter yang tenggelam dalam kekayaan yang tidak halal dan hati yang tidak peduli, akan sebuah tagline, Devotio non mox promissio, Pengabdian bukan sekedar janji, dan akan sosok yang pernah, akan, dan selalu berada di dalam hati kita semua untuk mengingatkan kita akan idealisme kita yang hampir luntur, karena memang beliau adalah sosok yang begitu ideal. Untuk seorang sahabat, untuk seorang saudara, untuk malaikat pengetuk hati kita, untuk Steven Wijata. There’ll be no Rest in Peace for you, because you will work, fight, and give with, and along, us.

Another Wonderful Memorial of W by Paul Kris Manengkei: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150386556392456

(Tulisan ini masih merupakan konsep kasar yang masih harus diperhalus tata bahasanya menjadi formal dan rapi)

Saat ini, masyarakat Indonesia menatap dokter dengan dua pandangan berbeda. Satu sisi memandang dokter sebagai Sang Suci dengan tablet-tabletnya. Tidak peduli sakit apa, dokter hanya perlu menatap dan menyentuh, dan bam!, keluarlah tablet-tablet sakti. Jika sudah setengah mati, berpindahlah ke rumah sakit, dengan infus (ini sudah wajib) dan jarum suntiknya, bam!, bereslah semuanya. Bagaimana jika pasien ternyata meninggal? Sudah kehendak Yang Kuasa.

Sisi yang lain menatap benci kepada dokter. Dokter hanyalah setan berjubah putih yang siap menyedot harta kekayaan tanpa peduli dengan pasien. Sombong, angkuh, dan serakah. Melihat pasien hanya selirik, lalu keluarlah berderet omong-kosong yang tidak perlu. Maka berlomba-lombalah mereka berobat ke luar negeri, dan yang terkapar pasrah di dalam negeri hanya bisa menatap benci sambil mencari pengacara.

Kedua hal ini berbuah dari satu hal yang sama; kedokteran paternalistik, setengah dewa, yang angkuh dan menganggap pasien sebagai bongkahan daging dengan penyakit-penyakitnya. Tak heran, kini kedokteran Indonesia berada dalam bencana. Dan sialnya, para dokter baru yang seharusnya melek, ternyata masih menganggap dirinya begitu anggun dan mulia, lupa menapakkan kakinya di dunia.

Kepada pihak pertama, makhluk setengah dewa pun putus asa. Mereka tak mau tahu apa, yang penting mereka sudah menunaikan sesajennya. Sekarang saatnya para dokter menyerahkan berkahnya, berupa pil dewa yang mampu menurunkan gula darah, darah tinggi, kolesterol, juga demam dan tidak enak badan. Tak peduli mereka dengan berbagai olahraga, kebersihan, pola makan, dan sebagainya. Bukan tugas mereka menjaga kesehatan. Itu tugas dokter. Maka mampuslah dokter-dokter kita yang mulia, beramai-ramai mereka menyajikan pil-pil dewa, termasuk di dalamnya pil sakti nan berkhasiat, antibiotik dan kortikosteroid.

Kepada pihak kedua, makhluk setengah dewa pun menjadi hamba. Para dokter hanya menjadi pelayan mereka, menghantarkan apa yang mereka minta. Akibatnya, omong kosong pun keluar semua. Pemeriksaan berlebihan, biaya dilebih-lebihkan, semua agar pesanan kelihatan mewah dan menawan. Ada yang puas, ada yang tidak. Sama, mampuslah para dokter kita yang mulia.

Masih banyak stereotip lainnya. Bahwa dokter layanan primer hanyalah sesuai namanya, dokter Puskesmas. Pusing, Keseleo, Masuk angin. Dokter yang bodoh istilahnya. Kalau kau punya harta, lebih baiklah langsung ke spesialis saja. Merekalah yang sebenarnya bijaksana. Tak heran layanan primer menjadi tak menarik. Para dokter berlari-lari mengambil spesialistik, dan habislah layanan primer kedokteran Indonesia.

Ada juga bahwa dokter adalah Yang Mengobati. Kalau tak sakit, tak perlulah ke mereka. Sakit sedikit, berobatlah segera. Akibatnya? Penyakit sepele pun berlimpah ruah, bercampur dengan penyakit yang sudah berat namun ditepis oleh yang sakit. Maka resmilah Puskesmas, Pusing, Keseleo, Masuk angin. Karena yang lain, tak mampu lagi dilihat dokter kita yang mulia.

Namun sekarang, semua itu sudah berlalu. Kedokteran saat ini menekankan pada prinsip pencegahan, yang berarti bahwa tombak layanan primer bukan lagi sekedar semboyan. Kini, kedokteran primer menjadi kunci layanan kesehatan. Idealnya, semua pasien harus melalui dokter keluarga mereka, dan hanya yang pentinglah yang akan dirujuk dan mencapai para dokter spesialis. Dokter keluarga bekerja tidak lagi mendulang pasien, namun berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kesehatan keluarga yang ia bina. Pencegahan kata kuncinya. Akibatnya, masyarakat dituntut untuk berpartisipasi aktif untuk menjaga kesehatan mereka. Tidak lagi hanya menunggu sampai terkena penyakit, baru berobat ke dokter.

Selain itu, para dokter dituntut untuk mengamalkan keempat etika profesinya. Beneficence, Non-maleficence, Autonomy, dan Justice. Untuk kebaikan pasien, tidak membahayakan pasien, sesuai keinginan pasien, dan kesetaraan semua pasien. Tidak ada lagi paternalistik, tidak juga hamba yang dikendalikan dengan uang.

Namun, semua ini hanya bisa terwujud jika sistem jaminan sosial sudah berjalan. Sebuah sistem di mana kesehatan tidak lagi merupakan biaya perorangan, namun menjadi biaya sebuah komunitas. Semoga.

Saya sudah lama sekali tidak menulis. Entah novel, entah artikel, entah puisi, entah cerpen, entah Buku Koass Bego. Saya sudah lama sekali tidak membaca buku-buku bagus. Saya sudah lama sekali tidak bermain-main dengan kanvas Photoshop. Saya sudah lama sekali tidak bermain-main dengan fantasy worldbuilding. Dan yang paling penting, saya sudah lama sekali menunda-nunda melakukan sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawab saya. Entah Buku Tahunan, entah seminar, entah yang lain. Saya sudah lama sekali tidak melakukan sesuatu yang bukan rutinitas, sesuatu yang membuat saya merasa hidup.

Procrastination kills me. Now, seriously, I need some Resurrection Spell or at least, Necromancy. Some slap will help too.

It’s long enough already for me to slack off. I’ve told myself again and again, to wake up and face the world. Now, I need to wake up for real.

Begins tonight. *insert battlecry here

Tak perlu dipungkiri, tidak semua dokter itu “bener”. Banyak dokter yang brengsek, seperti halnya semua profesi di dunia. Hanya saja, kebrengsekan dokter kadang didramatisir, sampai-sampai yang tidak brengsek juga menjadi ikut terseret.

Hal yang sama juga terjadi pada sebuah rumah sakit pemerintah bernama Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo. Rumah sakit yang lebih sering dikenal dengan sebutan “RSCM”, atau “Cipto” ini, jelas tak mungkin terhindar dari segala macam penjelek-jelekan nama baik. Rumah Sakit Cepat Mati, istilahnya. Apalagi, dengan jumlah staf yang begitu banyak (RSCM, jika menilik jumlah stafnya, sudah dapat dikategorikan sebagai industri besar), tidak termasuk para calon tenaga medis dan paramedis yang berkali-kali lipat banyaknya, tak heran jika RSCM menjadi sorotan. Angka kematian yang tinggi di rumah sakit ini, akibat dari posisi rumah sakit ini sebagai Pusat Rujukan Nasional yang menyebabkannya hampir selalu menerima pasien dengan kondisi lanjut, bahkan terminal, juga tidak memperbaiki keadaan.

Hal lain yang sering menjadi sorotan adalah “kekurangajaran” para calon dokter alias koass. Ketidaknyamanan pelayanan. Ketidaksopanan petugas. Dan masih banyak lagi hal-hal lain, yang pada akhirnya, dibanding-bandingkan dengan rumah sakit luar negeri, biasanya Singapura dan Malaysia. Rumah sakit, yang sayangnya, mereka lupa memiliki kondisi yang sangat jauh berbeda dengan rumah sakit yang menjadi bandingan mereka.

Saya tidak akan menyalahkan mereka yang begitu tidak sukanya dengan RSCM. Saya juga tidak akan membenarkan mereka yang tidak memberikan pelayanan semaksimal yang bisa mereka berikan. Saya hanya ingin mengingatkan, bahwa mereka juga manusia. Bisa lelah, bisa marah. Bekerja selama 8 jam, 12 jam, sampai 24 jam, tanpa henti, jelas melelahkan dan memancing emosi. Namun tidak, saya tidak akan membenarkan mereka.

Saya di sini juga tidak akan mempertanyakan apakah mereka yang mengamuk di luar sana, berteriak-teriak soal malpraktek, tahu bahwa bentuk tulisan yang benar sebenarnya adalah malapraktik. Bahwa semua kematian bukan berarti adalah malapraktik. Bahwa semua kesalahan di RSCM, begitu ketahuan, akan mendapat hukuman yang berat, diketahui ataupun tidak oleh publik. Tidak, saya tidak akan menanyakan hal tersebut.

Yang ingin saya pertanyakan adalah, mengapa hal buruk begitu cepat menyebar, tidak peduli dengan kebenarannya. Namun, hal baik tidak pernah terkabarkan sedikitpun ke dunia. Padahal, sepertinya semua agama mengajarkan bahwa mengucapkan hal yang benar adalah sesuatu yang wajib. Musavada Veramani Sikkhapadam Samadiyami. Saya bertekad untuk melatih diri untuk menghindari berucap yang tidak benar.

Tidak banyak yang tahu, FKUI-RSCM menurunkan stafnya untuk baksos, bencana, dan sebagainya. Tidak banyak yang tahu, entah berapa pasien yang tidak mampu yang diizinkan berhutang dahulu, sambil segala surat menyurat jaminan kesehatan diurus oleh keluarga. Tidak banyak yang tahu, berapa tuna wisma yang diantarkan ke RSCM, yang dibiayai seluruh biaya pengobatannya oleh rumah sakit. Tidak banyak yang tahu, entah berapa anak terlantar yang diletakkan seenaknya di ruang bayi, dan ibunya kabur entah ke mana, yang akhirnya semua biaya hidupnya ditanggung oleh RSCM sampai Depsos mampu menempatkan bayi tersebut di panti asuhan. Oh tidak, tidak banyak yang tahu.

Tidak banyak yang tahu, betapa banyak para dokter-dokter, dan calon-calon dokter, dan entah berapa berbagai petugas, perawat, dan calon perawat yang rela menghabiskan waktu mereka hanya untuk tempat pasiennya curhat. Yang akhirnya melanggar sumpah mereka sendiri dengan membiayai perawatan pasien tersebut. Yang membuang waktu di luar jam kerja mereka karena keluhan pasien, sederhana maupun kompleks. Yang berusaha sekuat tenaga mereka, berusaha menekan agar biaya yang keluar adalah biaya yang efisien, semua tindakan sesuai dengan kebutuhan dan ilmu terkini, tidak seperti rumah sakit yang terkenal di “sana”. Oh tidak, tidak banyak yang tahu.

Entah kapan mereka akan tahu. Atau mungkin, entah kapan mereka akan peduli. Tapi siapa aku, berani mendikte mereka? Aku hanya seorang koass belaka. Yang cuma memanfaatkan mereka saja.

Rodri Chen A.K.A Zoethaeque

adalah seorang mantan mahasiswa kedokteran di Universitas Indonesia, angkatan 2006 (tersangka ditahbiskan menjadi dokter tanggal 24 September 2011). Keturunan Tionghoa, seorang Buddhis, dan seorang Idealis. Dicurigai memiliki gangguan manik-depresif dan obsesif-kompulsif ringan terhadap tata bahasa, serta sedikit waham, maka dokter menganjurkannya untuk menulis agar mampu menghilangkan ide bodoh dari kepalanya.

Daftar Coretan Bodoh

December 2016
M T W T F S S
« Sep    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Beberapa Lencana Saja

Internet Sehat
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
100 Blog Indonesia Terbaik
%d bloggers like this: