You are currently browsing the tag archive for the ‘Angkuh’ tag.

Angkuh adalah saat kau menatap rendah
Dari tangga kemenangan kepada yang masih di bawah
Sambil meludah
Sebelum akhirnya tangga tersebut patah
Namun karena angkuhnyalah
Yang di bawah tidak akan menyanggah
Hingga ia terhempas mati di atas tanah

Apa yang kau angkuhkan?
Apa yang kau banggakan?
Kau berada di atas hanya karena kau di depan
Kau berada di atas bukan karena kau satunya yang mapan
Kau berada di atas hanya karena yang di bawah lamban

Dan bukan karena kami tak bisa
Dan bukan karena kami tak kuasa
Dan bukan karena kaulah satu-satunya

Untukmu yang angkuh lagak kuasa
Kau kira kami tak bisa?
Tunggu saja

Bodoh bukanlah saat kau jatuh
Bodoh adalah saat kau tidak mau tahu akan jatuh
Bodoh adalah saat kau tak percaya akan jatuh
Bodoh adalah saat kau tak percaya kalau kau bisa jatuh
Bodoh adalah saat kau yakin kau tak lagi bisa jatuh
Bodoh adalah menolak percaya kalau kau telah terjatuh
Bodoh adalah menolak berdiri saat kau terjatuh
Bodoh adalah mengira bahwa akan ada yang menjagamu supaya tak terjatuh
Bodoh adalah mengira bahwa akan ada yang mengangkatmu kalau kau jatuh

Bodoh adalah naif
Bodoh adalah angkuh
Bodoh adalah keras kepala
Bodoh adalah pesimis

Bodoh adalah ketika seseorang menganggap bahwa hidup ini indah.
Sebab sesungguhnya, ketika kau tahu bahwa hidup adalah petaka, namun kau tetap menikmatinya, saat itulah hidup itu adalah berkah.

Aku melolong, menatap langit dengan penuh kesombongan
Akulah makhluk tertinggi di dunia!
Aku mencaci, aku memaki
Aku mencengkram bumi bagai milikku sendiri

Akulah pusat jagad raya!
Akulah penguasa dunia!
Siapa kau, wahai makhluk rendah?
Kau hanya sebongkah upil yang kusentil, kuinjak, kutanam dalam tanah!

Diam, anjing gila!
Sebuah hardikan makhluk kecil berkaki dua
Aku menoleh dan menatapnya marah
Dan aku berbalik, siap mencabiknya dalam sejuta percikan darah

Ekorku terselip di antara kaki belakangku
Tatapan mataku kejam bagai wajah pemburu
Air liur membanjiri setiap sela bibirku
Tubuhku mengejang penuh nafsu membunuh

Ia menjerit ketakutan
Aku tersenyum penuh kemenangan
Aku melangkah penuh keangkuhan
Mendekati si Tolol yang kaku karna kebodohan

Mendadak
Nyeri, Gelap, menyelimuti sekujur tubuhku
Aku mengeliat marah dan membentak galak
Mencari makhluk busuk yang berani menyentuh wajahku

Di sana, sesosok makhluk berkaki dua yang lebih besar
Yang mengira dirinya pintar
Membawa sepotong pohon tak berdaun tak berakar

Hah!
Kau kira kau bisa mengalahkanku dengan potongan sampah?
Akulah pemilik semua anugerah!
Kau kira siapa dirimu, makhluk tolol dalam bungkus busuknya barah?

Dan sebuah cakar atas kembali melayang
Menggores pipiku, merah membayang
Diam Wanita Jalang!

Memangnya kau siapa?
Wajah tak rupawan!
Jiwa tak menawan!
Emas tak bertuan!
Apalagi yang kau punya?

Aku terpuruk, diam
Tak mampu menyangkal
Dan baru tersadar
Akulah sampah yang sebenarnya

Sang Dewa angkuh luar biasa
Sungguh mulia, agung, tak cacat rupa-Nya
Manusia hanyalah kutu kecil di hadapan-Nya
Murka-Nya diledakkan hanya demi kesenangan belaka
Sungguh, Dewa Murka tak berguna!

Satu pulau telah dihancurkan-Nya
Sekali sapu, luluh lantak semuanya
Untuk apa?
Hanya untuk kesenangan belaka
Hanya karena secercah dosa
Hanya karena setitik noda
Satu kapal besar, tenggelam dalam samudra

Kini, satu lautan telah dihapus-Nya
Mengapa?
Hanya karena nikmat belaka
Hanya karena satu manusia
Hanya karena Ia tak suka
Satu Samudra diraup kering
Diganti Tanah Murka Dewa

Sang Dewa angkuh nan perkasa
Manusia kecil busuk berbungkus dungu menyembah pada-Nya
Manusia kecil tegar menentang diri-Nya
Namun,
Seperti sudah diduga
Sang Dewa nan perkasa musnahkan manusia kecil tegar yang malang
Manusia kecil busuk berbungkus dungu?
Hanya untuk pijakan kaki saja

Sang Dewa angkuh luar biasa
Telah melupakan janji-Nya
Telah melupakan setiap patah kata sumpah-Nya
Kau Dewa busuk keparat!

Setiap murka-Nya
Setiap serpih kehancuran oleh-Nya
Disangkal oleh-Nya
Bahwa diri-Nya
Hanya mengemban tugas belaka
Bahwa diri-Nya
Hanya menyanjung tinggi suatu Kebenaran Semu
Yang kata-Nya
Warisan Tanah Agung

Aku?
Aku hanyalah manusia kecil dungu lemah tak berdaya
Aku hanyalah manusia durhaka keparat yang telah menodai sepatu Sang Dewa
Ketika Ia menginjak mati diri hamba yang hina
Aku
Hanya bisa menatap pedih pada langit kelam
Dan bertanya
Dalam gelap kematianku.

Dalam matiku
Aku menangis.

Rodri Chen A.K.A Zoethaeque

adalah seorang mantan mahasiswa kedokteran di Universitas Indonesia, angkatan 2006 (tersangka ditahbiskan menjadi dokter tanggal 24 September 2011). Keturunan Tionghoa, seorang Buddhis, dan seorang Idealis. Dicurigai memiliki gangguan manik-depresif dan obsesif-kompulsif ringan terhadap tata bahasa, serta sedikit waham, maka dokter menganjurkannya untuk menulis agar mampu menghilangkan ide bodoh dari kepalanya.

Daftar Coretan Bodoh

August 2014
M T W T F S S
« Sep    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Beberapa Lencana Saja

Internet Sehat
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
100 Blog Indonesia Terbaik
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: