You are currently browsing the category archive for the ‘Puisi’ category.

(SEBUAH UCAPAN SELAMAT)

Sepucuk Surat dalam Botol yang Mengapung

Mengayuh percik langkahi ombak
Sang perahu bergoyang riak
Berguling dan menatap marak
Ia hanya tersenyum serak
Sebuah senyum kaya tangis dan teriak

Kini

Risau gelisah telah terbabat
Di hatinya sepucuk surat
Beralih pangkuan pada perawan
Kata pemuda yang harus diberikan
Kini telah beralih tangan
Sang empu bertemu yang sepadan

Bisik cinta pemuda pada sang perawan
Dalam wujud surat berlidah empat
___________________________________________________________________

(SEPOTONG KATA MAAF)

Laki-laki Bisu

Aku hanyalah seorang laki-laki bisu yang tak mampu pekikkan rasa cintanya seutuhnya pada seorang wanita yang seharusnya

Aku hanyalah seorang laki-laki buta yang tak mampu melihat jiwa murni yang ia curi ketika ia meminang gadisnya

Aku hanyalah seorang laki-laki tuli yang tak mampu bersenandung cinta karena bising oleh dungunya

Aku hanya mampu
Menatap dalam gelap
Mendengar dalam hening
Menjerit dalam bisik

Untuk berkata maaf

Atas semua hening malammu karena bisuku
Atas semua toreh lukamu karena butaku
Atas semua serak tangismu karena tuliku

Aku hanya bisa berkata maaf
_______________________________________________________________________

(SEUNTAI TERIMA KASIH)

Dua Belas Purnama, Delapan Warna

Dua belas purnama kau telah warnai hidupku dengan hadirmu

Putihnya kertas putihnya janji
Hitamnya tinta hitamnya bukti

Merahnya hati merahnya cinta
Hijaunya hutan hijaunya canda
Birunya langit birunya rindu sapa

Jingganya mentari jingganya tawa
Ungunya raja ungunya pria
Kuningnya emas kuningnya wanita

Dua belas purnama delapan warna
Terima kasih

_______________________________________________________________________

(SEUCAP KATA TOLONG)

Satu tahun Telah Berlalu, Seratus Tahun Kini Menanti

Satu tahun telah berlalu
Seratus tahun kini menanti

Satu tahun telah tiada
Suka kita ukir bersama
Duka kita kayuh bersama
Akankah hal ini terus nyata?
Sampai seratus tahun jua?

Apakah dunia akan mengkhianati kita?
Apakah langit akan mengutuk kita?
Ataukah mereka akan mengantar kita
Ke pintu seratus tahun pula?

Aku tak tahu
Aku tak mengerti
Aku hanya tahu
Aku jatuh cinta padamu
Sampai seratus tahun lagi

Kiri boleh berkata apa
Kanan boleh menggumam apa
Aku tak peduli

Aku hanya mintamu janji
Genggam tanganku sampai serahun tahun lagi
Gandeng lenganku sampai seratus tahun lagi
Rengkuh bahuku sampai seratus tahun lagi
Peluk pinggangku seratus tahun lagi

Kau berjanji
Lain aku tak peduli lagi

Hari ini, malam ini
Ketika bulan tersenyum berseri
Aku di sini, berlutut di atas satu kaki
Aku meminangmu atas nama cinta

Masihkah kau ingat detik pertama kita bersua?
Masihkah kau ingat detik pertama kita berdansa?
Masihkah kau ingat detik pertama kunyatakan cinta?
Masihkah kau ingat senyum malumu waktu itu, tawa tak percayamu waktu itu, kerut keningmu waktu itu?

Karena, maaf
Aku tak ingat itu semua

Aku hanya seorang lelaki tak berjiwa
Yang tak mampu merekam itu semua
Dalam jiwaku, dalam hatiku, untukmu sang kunci asa

Aku hanyalah seorang bajingan yang masih melirik setiap gadis ayu yang bertukar langkah dengan kita
Aku hanyalah seorang lelaki tak sempurna yang membuatmu menangis selalu
Aku hanyalah seorang lelaki
Yang tak akan pernah mengerti
Betapa berharganya setiap detikku bersama dirimu
Dan betapa aku hampir menghancurkan itu

Dan aku di sini, masih berlutut di atas satu kaki
Mengenang setiap detik samar dirimu bersamaku
Memberanikan diri walau tanpa mas kawin apa-apa

Aku meminangmu, atas nama cinta
Hanya cinta
dan akan selalu cinta

Aku mencintaimu dengan sebuah cinta abadi
Cinta yang tidak akan mati
Sampai aku mati

Dan dengan ini,
Aku, lagi-lagi masih berlutut di sini
Meminangmu, atas nama cinta

Dipersembahkan untuk sepasang mempelai baru pada hari pernikahan mereka, Toa Koko, Hendrik Tanoto dan Toa So, Fung Yin θ’‹ (蒋净云)

Hari ini, aku melihat tawa
Hari ini, aku melihat tangis
Hari ini, aku melihat etika
Hari ini, aku melihat tragis
Hari ini, aku melihat nyawa
Hari ini, aku melihat mati

Hari ini, aku tercenung, murung
Merenung

Aku tak ingin jadi mereka lagi

Mungkinkah?

Hari ini aku mengerti
Arti kata sebuah ironi
Arti kata sebuah munafik

Antara pergi, atau mengulang sekali lagi

Hari ini, aku melihat ironi

Cemas takkan menyelesaikan masalahmu
Cemas mengaburkan pikiranmu
Cemas memperburuk masalahmu

Keluh takkan menyelesaikan masalahmu
Keluh menjauhkan sahabatmu
Keluh memperberat bebanmu

Berhentilah cemas
Berhentilah mengeluh

Sekarang ayo kerja!

Canda adalah untuk sebuah tawa
Santai adalah untuk sebuah manja
Marah adalah untuk sebuah salah
Sedih adalah untuk sebuah duka
Takut adalah bukan saatnya
Kerja adalah untuk sebuah kerja

Jadi, ayo kerja!

Lupakan omong kosong lainnya

Mulailah dari satu langkah saja

Sebuah keluarga
Ayah, Ibu, dan anak-anaknya

Ayah sebagai pengasuh raga
Ayah sebagai tawa dan canda

Ibu sebagai pengayom jiwa
Ibu sebagai sang titah raja

Anak pertama, teladani, teladan
Anak kedua, teladani, dan teladan
Anak ketiga, teladani yang teladan

Kakak lelaki yang kuasa
Adik lelaki yang bercanda
Kakak perempuan cemas tiada kata
Adik perempuan tertawa bahagia

Kakek bukti nyata ukiran sang hidup
Nenek sang penyambung hidup
Tawa gembira, sekaligus takjub

Paman dan Bibi, orang tua kedua
Sepupu-sepupu, besar kecil, dunia berbeda

Keluarga
Tak terlibat tali darahnya
Darah tak berarti keluarga
Keluarga tak berarti darah

Tali darah boleh diganti apa saja
Simpulnya, ikatan jiwa

Itulah keluarga

Rodri Chen A.K.A Zoethaeque

adalah seorang mantan mahasiswa kedokteran di Universitas Indonesia, angkatan 2006 (tersangka ditahbiskan menjadi dokter tanggal 24 September 2011). Keturunan Tionghoa, seorang Buddhis, dan seorang Idealis. Dicurigai memiliki gangguan manik-depresif dan obsesif-kompulsif ringan terhadap tata bahasa, serta sedikit waham, maka dokter menganjurkannya untuk menulis agar mampu menghilangkan ide bodoh dari kepalanya.

Daftar Coretan Bodoh

May 2012
M T W T F S S
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Beberapa Lencana Saja

Internet Sehat
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
100 Blog Indonesia Terbaik
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.