You are currently browsing the category archive for the ‘Cerita Pendek’ category.

Cerita ini bukan ceritaku, ini cerita seseorang yang, yah, berkepentingan dalam hidupku. Namun ini bukan cerita tentang ia dan aku, ini cerita tentang ia dan hidupnya.

Ia adalah seorang mahasiswi tingkat semi-akhir, yang membuatnya harus mengambil magang sebagai tugas laporan akhir. Ia melamar di tiga tempat; katakanlah A, untuk Asyik, B, untuk Buruk, dan C, untuk Cukup.

Tempat ia melamar pertama adalah A. Suasananya begitu menjanjikan, begitu mendambakan. Indah nian, penuh harmoni dan janji-janji. Namun ia tak ingin berpangku tangan menghitung ayam dari telurnya. Ia pun melamar di B.

B tidaklah seindah A. Begitu keluar dari pintunya, ia sudah yakin bahwa B bukanlah pilihan yang mungkin baginya. Terlalu sulit. Namun ia tak putus asa. C pun disambutnya.

C begitu megah, begitu angkuh. Jauh lebih menjanjikan, namun jauh lebih menuntut. Ia tak berharap banyak darinya, namun semuanya runtuh begitu saja, ketika A menyatakan kata maaf. A, yang telah menjanjikan langit dan bumi untuknya, menyatakan kata maaf. Ia hanya bisa berharap pada C.

Sesudah mendaki gunung golok mengarungi lautan darah, lagi-lagi takdir menoreh hatinya. C menyatakan tidak. Hancurlah hatinya, hancurlah jiwanya. Kini ia tak mampu lagi berkata apa-apa.

Ketika tali jerat mulai menggores lehernya, ketika tangis hampir mengering rasanya, telepon pun berbunyi.

B, yang tak pernah kelihatan meyakinkan, menyatakan kata Ya.

Ia hampir tak percaya. Namun begitulah adanya, senyum di bibir tak berarti tangan terbuka, kernyit di kening tak berarti belati di baliknya.

Kepadamu, BPH KMBUI XVII
Kepadamu, KMBUI 2006

Sejujurnya, empat tahun yang lalu, aku hanya seorang bocah SMA yang angkuh, bodoh, namun tidak tahu diri. Sampai kemudian, aku dijebak oleh kakakku sendiri untuk masuk dalam sebuah neraka bernama KMBUI.

Sebuah neraka, karena siksa deritanya yang membuatku kehilangan waktuku untuk berhura-hura, berpesta-pesta, hanya untuk sepotong perjalanan jauh ke suatu tempat, hanya untuk bekerja, untuk sesuatu yang aku takkan pernah tahu manfaatnya.

Namun, dengan bodohnya, aku mencintai setiap detik itu. Setiap detik aku berada di KMBUI. Setiap detik aku menjerumuskan semakin dalam jengkal demi jengkal. Dan aku, tergila-gila akan hal tersebut. Sampai akhirnya aku melompat ke jurang terlarang, sebagai BPH KMBUI XVII.

Dan aku mengenal Hermando Firgus, hakim, penengah, pendamai dari setiap panas dan dingin dari BPH XVII. Orang yang paling berubah dari detik aku mengenal setiap BPH XVII. “Kembaran”, atau mungkin saingan, dalam segala hal dengan diriku sendiri. KMBUI mengubah dia menjadi lebih baik, dan ia mengubah KMBUI ke arah yang lebih baik pula.

Dan aku mengenal Jenny Yeonardy, bawel, ceria, iseng, ramah, dan setia kawan. Primadona angkatan, namun entah naif, entah pura-pura tak tahu, mengaku dirinya tak laku. Ia ada untuk “menerangi” KMBUI 2006.

Dan aku mengenal Mei Linda. Pendiam, tampang kesan pertama sama persis dengan saya, JUTEK (hahaha), rajin, tepat waktu, teliti, dan tegar di balik tubuhnya yang kurus. Profesional, disiplin, BPH XVII karena dia.

Dan aku mengenal Wahyudi. Pendiam, kalem, ramah. Jenius dalam hal komputer mengkomputer. Salah satu yang paling religius, ia menurunkan suasana terik menjadi damai kembali.

Dan aku mengenal Cindy. Sedikit telmi, ceria, dan suka bingung. Yang religius, yang pintar dalam hal Buddhisme, ialah yang memberikan warna Buddhisme dalam BPH XVII, agar tetap lurus dalam jalan Buddha Dharma.

Dan aku mengenal Ferry Hartanto. Diam pada awalnya, celetukannya langsung mengenai sasaran. Mendadak, dan menimbulkan dua efek berbeda. Antara kau akan tertawa, atau kau akan takjub, masalah selesai adanya. Ferry, salah satu pelawak kita, tendangannya sudah terkenal dalam dunia Tae-Kwon Do.

Dan aku mengenal Suria. Kalem, sipit, rajin, peduli, dan mampu merangkul semuanya. Ia ada untuk dikerjai, namun ia hanya tertawa bersama, mewarnai hidupnya BPH XVII dengan pemikirannya yang cemerlang.

Dan aku mengenal Hartono. Pelawak sejati, hidupnya ada untuk menertawai dunia dan teman-temannya. Namun di balik konyolnya, ia seorang yang sangat peduli pada adik-adik juniornya, namun sayangnya masih juga belum berpasangan.

Dan aku mengenal Indah Chandra. Ramah, rajin, pendiam, namun ia mampu menanggulangi sebuah beban yang cukup berat bagi orang lain, mungkin karena tubuhnya yang lebih perkasa.

Dan aku mengenal Cakra Putra. Orang lurus yang meluruskan kembali BPH XVII ketika sudah melenceng dari jalurnya. Disiplin, kritis, ia ada untuk sebuah KMBUI yang lebih baik.

Suka duaka kita lalui bersama. Tujuannya sama, untuk memberikan yang terbaik pada kita semua. Bersama telah kita bekerja. Bersama kita telah tertawa, menangis, marah, namun itu semua, tak ada apa-apanya ketika hari itu, aku melihat KMBUI diwariskan dalam keadaan yang lebih baik. Artinya, kerja kita tidak sia-sia. Walaupun kecil, kita berhasil mengukir sesuatu yang berbeda.

Namun bukan itu saja. Bersama kalian, aku bertambah dewasa. Bertambah memahami arti dunia. Bersama kalian, aku lebih mencintai dunia. Bersama kalian, aku siap menyongsong dunia. Bersama kalian, para sahabatku.

Malam ini, ketika aku mengenang kembali detik-detik BPH XVII, ketika beban tersebut telah kulepas, aku berbangga, karena tanggung jawab itu tak hanya diberikan begitu saja. BPH XVII telah mengukir KMBUI yang lebih baik. BPH XVII juga telah mengukir hidupku yang lebih bermakna.

I love you all. Tanpa kalian, aku hanya seorang katak dalam tempurung.

Seorang profesor fakultas kedokteran masuk ke ruangan kelas, di tengah kehebohan para mahasiswa yang tak peduli pada dosennya, selama kuliah belum dimulai. Apalagi, kuliah Modul Empati ini cukup membosankan, kata senior-senior.

Sang profesor hanya berjalan tenang, menghampiri laptop yang ada, dan memasukkan sebuah flashdisk ke dalamnya. Mendadak, sebuah film pun terbuka. Sang profesor mendekatkan mikrofon ke speaker laptop tersebut.

Seketika saja ruangan itu terdiam, menatap film yang diputar profesor tersebut. Di sana tertayang sebuah adegan film biru, lengkap dengan suaranya yang membahana di seluruh ruangan. Sebagian besar wanita, terutama yang berjilbab, langsung menunduk jengah. Beberapa mahasiswi masih bertahan menonton, bersama seluruh mahasiswa, walaupun sebagian kecil mahasiswa menundukkan kepalanya juga. Yang menonton memiliki ekspresi wajah yang berbeda-beda pula. Ada yang tersenyum simpul, ada yang tertawa cekikikan, ada pula yang tertawa jengah. Namun banyak pula yang menonton dengan tenang. Namun yang jelas, para lelaki mulai mengubah posisi duduknya berkali-kali.

Namun semuanya mulai berubah ketika adegan berubah menjadi adegan anal antara dua orang pria. Seketika itu juga, sebagian besar penonton langsung menunduk jengah, bahkan jijik. Suara maskulin yang terangsang yang masih membahana di ruangan itu seakan membisukan mereka semua.

Namun film itu tak berhenti sampai di situ. Adegan berubah menjadi hubungan seks dengan bervariasi binatang, bahkan aneka parafilia (kelainan seksual) yang pernah direkam hampir semuanya tertayangkan dalam film 30 menit itu. Dan akhirnya, ketika layar sudah menghitam, masih belum ada mahasiswa yang bersuara, semuanya masih sibuk dengan dirinya sendiri, tanpa ada yang menyadari bahwa film sudah selesai. Suara film masih terus membahana, sedangkan layar sudah menggelap. Tak ada yang menyadari.

Ketika akhirnya suara tersebut membisu, semua mahasiswa mengangkat kepalanya, menatap profesornya dengan bertanya-tanya. Bahkan, beberapa mahasiswa menatap profesor tersebut dengan tatapan sinis.

Si profesor, masih menatap tenang mahasiswa-mahasiswanya, akhirnya mengangkat mikrofon ke arah bibirnya.

“Ini cuma sebuah film. Bagaimana nanti kalau kalian sudah bertemu pasien? Jika ada tingkah laku pasien, cerita pasien, yang menurut kalian aneh, menurut kalian lucu, menurut kalian menjijikkan, menurut kalian memuakkan, apakah kalian semua akan menunduk, jengah, jijik, dan tidak mendengarkan pasien? Sibuk dengan diri kalian sendiri, sehingga ketika layar sudah padam semenit, tinggal suaranya saja yang ada, tak ada seorangpun yang menyadari?”

Tak ada yang menjawab. Tak ada yang berani. Profesor itu kembali memutar adegan film selanjutnya. Adegan tersebut adalah wawancara dengan pasien skizofrenik, dengan ceritanya yang aneh dan lucu. Namun, kali ini, tak ada yang berani tertawa.

“Bapak itu bilang kalian boleh meriksa dia sesuka kalian. Dia ikhlas, biar kalian bisa jadi dokter yang hebat nantinya.”

“Maksudnya Dok?”

“Kalian tahu tinggal berapa lama lagi waktu Bapak itu? Angka harapan hidup untuk stadium seperti itu adalah 6 bulan.”

“Bapak itu sudah tahu. Dan sekarang sudah mau pulang. Jadi baik-baiklah kalian kepada semua pasien. Kalian berhutang banyak pada mereka.”

Cerita ini adalah kisah nyata. Penulis adalah salah seorang ko-ass baru salah satu fakultas kedokteran di Indonesia.

Guru utama seorang dokter, adalah pasien tidak mampu, yang merelakan dirinya dijadikan bahan percobaan sekian belas ko-ass yang bahkan belum belajar dari rumah. Jika kau memberikan biaya dokter gratis untuk 100 orang pasien tidak mampu, hal tersebut belum membayar jasa satu orang pasien yang kau pegang-pegang.

Jika ada seorang dokter yang merendahkan pasiennya, ia bukan seorang dokter. Ia cuma seorang sampah. Pasien mampu mungkin sumber pendapatannya, namun pasien tidak mampu sumber pengetahuannya. Tanpa mereka, ia takkan pernah menjadi seorang dokter.

Juga oleh lifetalks, oleh salah satu sahabatku, Juno.

Entah mengapa, hari itu mengingatkanku kepada masa kecilku yang manis. Perjalanan kurang dari satu jam sebuah KRL Ekonomi Jabodetabek dengan berbagai fenomenanya yang biasa, membawaku kembali tersenyum sendiri seperti orang tolol di tengah keramaian kereta, mengingat kembali masa kecilku yang sebenarnya sederhana, namun membuatku ingin kembali.
_________________________________________________________________

“Gunting, gunting, gunting….”
Aku melihat sosok pedagang gunting penjahit hitam yang cukup unik, dan langka untuk zaman sekarang.
“Tajam, gunting langka….” sahut sang penjual sambil mengguntingi potongan karton yang ia bawa.

“Mama kan sudah bilang, gunting Mama jangan dimainin,” omel Mama sambil melototiku yang menunduk, merasa bersalah. Aku memang suka mengguntingi segala bentuk kardus permen dan makanan ringan lainnya. Kardus-kardus kecil warna-warni itu banyak bertebaran di sekitar tong sampah minimarket dekat rumahku. AKu suka mengambil kardus kecil yang masih bersih, yang memiliki tokoh maskot di atasnya, lalu menggunting keluar tokoh kecil tersebut. Gunting yang menjadi korbanku? Sebuah gunting hitam berat milik Mama, sebuah gunting khas penjahit, yang memiliki besi semberani di ujungnya. Mama memang suka menjahit. Di masa mudanya, sebelum menikah, Mama memang menjadi penjahit pesanan, namun setelah menikah maka konsumen setianya menjadi keluargaku. Gunting kesayangannyalah (yang memang sukar dicari lagi, katanya sih gunting impor Eropa) yang menjadi perkakas andalanku, sekaligus juga bahan diomelnya aku. Alasannya karena gunting tersebut menjadi tidak tajam lagi setelah dipakai untuk menggunting kertas karton setebal itu.
_________________________________________________________________

Seorang anak dengan tergesa-gesa berlari menyusuri peron stasiun, menyelip di antara pintu-pintu kereta yang hanya terbuka sedikit, macet sepertinya. Lalu dengan enaknya, bergelantungan di luar gerbong kereta, dengan hanya kaki dan jari tangannya yang berada di dalam kereta. Entah apa tujuannya. Mengumbar nyawa? Entahlah. Namun, colekan seorang ibu akhirnya membuatnya menurut, menyelipkan diri ke dalam kereta, menuruti arah telunjuk sang ibu untuk kemudian duduk manis di atas hamparan koran, di sudut gerbong kereta. Tampak di balik punggungnya, sesosok ransel yang hampir sama ukurannya dengan dirinya.

“Napa sih tasmu gede banget? Pasti gak nyusun roster ya! Bukunya dibawa semua. Kaya Kokomu aja….” Aku hanya bisa diam, tak berani menyanggah, namun tak berani juga mengakui. “Ntar kamu jadi bungkuk, baru tahu,” lanjut Mama. Aku hanya bisa mengiyakan….
_________________________________________________________________

Sesosok kumal menyelip dari sela pintu macet kereta. Sekujur tubuhnya sangat kotor, berlapiskan debu. Banyak robekan di sana sini pakaiannya. Ia langsung duduk saja di pinggir pintu kereta, dan diam di sana.

“Jangan ganggu orang gila itu ya, ntar kamu dikejar.”
Aku hanya mengangguk, menatap sosok berkepala licin tak berambut, yang berjalan tanpa tujuan. Sosok itu adalah sosok yang dikatakan gila oleh seluruh kota. Sangana namanya. “Putar….” ejekan anak-anak SD kala itu. Sangana akan berputar layaknya seorang penari balet, dan anak-anak pun akan tertawa. Selesai? Tidak. Ia akan mengejar anak-anak itu kemudian. Bagaimana kalau tertangkap? Entahlah. Tak pernah terdengar siapapun yang pernah tertangkap Sangana.

Ada juga si Ngena, sesosok wanita gila. Katanya sering berjalan tanpa busana. Entah benar tidaknya, aku tak pernah melihat sosoknya. Sosok wanita yang gemar tanpa busana yang kutahu hanyalah tetanggaku, yang gemar mandi di udara terbuka di plafon rumahnya. Kini ia katanya berada di Jakarta, bersama dengan keluarganya. Ia telah diceraikan suaminya, yang tak tahan dengan tingkah lakunya. Suaminya? adalah sesosok pria sedikit gemuk botak yang berjualan bahan pangan di samping kanan rumahku. Tanah kosong di masa kecilku kini telah menjadi rumahnya. Rumah itu, setelah ditinggalkan penghuni awalnya, tak pernah lagi dihuni oleh orang yang tetap. Seorang dokter yang menyewa di sana, akhirnya menjadi seorang sales asuransi. Kini rumah itu hanya menjadi gudang.

Ada juga Simamora. Hobinya meminta-minta, kadang-kadang dengan memaksa. Sosoknya tinggi besar, menakutkan, keriting, hitam. Kata-katanya,”Seribu Bos, rokok….” telah menjadi trademarknya. Papa sering menipunya, berpura-pura ia memasuki toko yang salah.

Bicara soal minta-minta. Kota kecilku sering dipenuhi preman kecil yang sering meminta-minta dari rumah ke rumah. Ada satu sosok mantan preman yang masih ada, pincang jalannya, selalu membawa tongkat. Berbeda dengan yang lainnya, yang meminta dengan gertakan dan ancaman, ia dengan sabar, duduk diam saja tak mau pergi. Kini caranya telah ditiru banyak preman lainnya, karena ternyata gertakan dan ancaman tak berguna buat Papaku tercinta. Suatu kali ia membawa sesosok preman baru (preman aja ada magangnya). Tak sabar si preman baru, ia mengeluarkan kata ancaman,”Kita hancurkan aja deh tokonya.” Ancaman yang salah. Pamanku yang berada di sana langsung bersiap mencabut sebatang besi per mobil, siap menghantam si sosok tengik kurus itu. Terburu-buru, si pincang memaki si preman baru, lalu segera menariknya keluar. Sang preman baru masih harus belajar.
_________________________________________________________________

Kereta menerobos gelapnya terowongan kereta.

Lantai tiga rumahku. Koko menantangku untuk bergelap-gelap di sana. Memang, di atas sana, yang masih belum ada yang menempatinya, ketika malam tak ada lampu yang dinyalakan. Di sana, keringat dingin menerkamku. Aku seperti bisa melihat sosok-sosok putih di ujung mataku. Berpura berani, akhirnya Kokoku menyerah, membawaku turun kembali ke bawah. Ia telah kalah.

Lantai tiga akhirnya dibangun kamar tidur baru. Untuk kedua Kokoku. Terkadang ia mengajakku untuk tidur bersamanya. Gerah rasanya di sana. Sepi mencekam rasanya di sana. Walau di ruangan itu telah terjadi berbagai kisah lucu, di mana Koko keduaku cekikikan mengintip Koko pertamaku berganti pakaian, di mana kedua Kokoku yang lasak sanggup bergelantungan di tempat tidur, dengan hanya pantat di atasnya, tetap bertahan lelapnya, sebelum dipindahkan oleh Mamaku. Aku akhirnya tak tahan, turun kembali ke ranjangku yang nyaman.

Tak jarang aku tertidur di sofa. Tontonan TV terkadang membosankan, apalagi aku tak mengerti isinya. Kalau sudah begitu, Papalah yang bertugas menggendongku kembali ke kamar. Kadang aku mengisenginya, berpura-pura tertidur, untuk ketika ia sudah menaruhku di kasur, aku akan bangun dan tertawa.

Sofa di ruang keluarga. Aku teringat saat aku mulai membaca komik pertamaku selain komik anak-anak. Komik Kenji, 21 jilid, kuhabiskan dalam sehari. Hari pertamaku diizinkan boleh tidur lebih malam dari biasanya. Mengapa harus begitu? Komik itu harus dikembalikan keesokan harinya, pada teman Kokoku. Komik itu memang ia yang pinjam. Apa yang terjadi? Satu komik hilang, mengendap lebih dari 5 tahun lamanya, baru ditemukan pada akhirnya.

Majalah Donal Bebek adalah majalah pertamaku, majalah langgananku. Tak bosan-bosannya aku membacanya, sampai aku hapal gambar dan teksnya. Aku memang tergila-gila membaca, sampai novel remaja Kokoku kuhajar diam-diam, karena dilarang Mamaku, dengan alasan, bukan untuk seusiaku. Kadang aku meringkuk di lantai tiga, di bawah terangnya matahari sore, mengulang-ulang majalah Donal Bebek itu. Tak heran, kini miopi mataku melewati angka delapan.

Di lantai tiga itu pula markas tempat mainku. Fantasi liarku kuluapkan di sana, membangun kota dan militernya. Perang. Layaknya permainan anak lelaki pada umumnya.

_________________________________________________________________

Sesosok lelaki tua memasuki gerbong kereta. Meletakkan kedua keranjangnya yang sudah kosong dan bambu pemikulnya.

Aku menatap iri pada batang bambu yang dibawa oleh sang penjual tapai. Betapa inginnya aku memiliki tongkat itu. Jadinya aku tak perlu lagi meminjam tongkat milik sepupuku, kalau aku bermain petualangan lagi nantinya.

Petualanganku sangat luar biasa. Dari berkelana dengan sebuah kapal (dari kotak kardus besar helm), berkelana dengan kaki, menjadi mata-mata super, semuanya. Permainan itu akan terus menerus sampai suatu saat nanti, akan berhenti. Ketika Cicinya pulang. Dan mereka pun akan bertengkar. Dan aku pun pulang. Permainan sudah selesai.

“Rodri itu memang menyebalkan!” Kata-kata itu begitu menhunjam jiwa kanak-kanakku, ketika aku terlambat masuk les bahasa Inggris karena mengikuti Pramuka. Yang mengucapkan? Cici sepupuku. Sosok yang sama. Ucapan itu entah dari mana ujung pangkalnya, namun ucapan itu membuatku tak pernah lagi bertegur sapa denganya sampai beberapa tahun ke depan.
_________________________________________________________________

Sesosok pengamen masuk ke dalam gerbong, meniup harmonikanya.

Aku menatap sebal pada harmonika biru di tanganku. Tak mampu aku memainkannya seperti semua saudara dan Mamaku. Mungkin itu pertanda awal aku memang tak layak bermain musik, namun usaha itu tak memupus harapanku, sampai aku tertarik bermain gitar. Ketertarikan itu mati. Aku tak mau lagi bermain musik.
_________________________________________________________________

Aku tak bisa bermain gitar. Aku tak bisa berolahraga. Aku tak suka bermain video games bola. AKu benar-benar berbeda dengan para remaja lelaki pada umumnya. Seperti seorang alien rasanya.
_________________________________________________________________

“Bagus kok Rodri mau jadi dokter, jadi nanti kalau Suster sudah tua, sudah bungkuk, nyari Rodri buat diobati, dikasih gratis ya.” Ucapan ini diucapkan oleh Suster Kepala Sekolah TK-ku, yang melarangku melompati kelas, dengan alasan supaya aku masih bisa bermain-main dengan anak seusiaku. Ia meninggal jauh sebelum aku menginjak bangku SMP. Ia tak pernah melihatku sosokku mengenakan jas putih.
Aku menatap sosok anak SMP yang bergelantungan dengan riangnya di pintu kereta. Entah apa tujuannya. Mencari jati diri? Mungkin. Dan aku tersenyum, saat nasehat seorang penumpang tak mereka perdulikan. Dan aku teringat pada masa remajaku, masa pemberontakanku, masa pencarian jati diriku.
_________________________________________________________________

Dan kini, saat aku menatap rangkaian patah-patah hidupku kembali, masa kecilku kembali, masa laluku kembali, aku tersenyum, pada diriku sendiri, pada semua orang yang telah mengukir hidupku di sini. Terima kasih semuanya, kini inilah seorang aku.

Rodri Chen A.K.A Zoethaeque

adalah seorang mantan mahasiswa kedokteran di Universitas Indonesia, angkatan 2006 (tersangka ditahbiskan menjadi dokter tanggal 24 September 2011). Keturunan Tionghoa, seorang Buddhis, dan seorang Idealis. Dicurigai memiliki gangguan manik-depresif dan obsesif-kompulsif ringan terhadap tata bahasa, serta sedikit waham, maka dokter menganjurkannya untuk menulis agar mampu menghilangkan ide bodoh dari kepalanya.

Daftar Coretan Bodoh

May 2012
M T W T F S S
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Beberapa Lencana Saja

Internet Sehat
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
100 Blog Indonesia Terbaik
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.