You are currently browsing the category archive for the ‘Sarkasme dan Ironi’ category.

Kalau anda bilang orang Indonesia itu sabar, anda salah. Buktinya? Ketika disuruh menunggu, orang Indonesia pasti tidak mau. Contoh? Menunggui lampu lalu lintas menjadi hijau dan mengantri.
Tapi kalau anda bilang orang Indonesia itu tergesa-gesa dan sangat menghargai waktu, anda salah besar. Dan untuk yang satu ini, sepertinya sudah tidak perlu ada contoh lagi. Bahkan orang Indonesia punya istilah untuk itu; jam karet.

Kalau anda bilang orang Indonesia itu satu, tidak juga. Belum pernah lihat perang berlandaskan SARA di Indonesia? Perang tersebut bahkan lebih gencar lagi di internet.
Tapi kalau anda bilang orang Indonesia itu beragam, tidak juga. Buktinya? Berbagai usaha “asimilasi”, bahkan generalisasi SARA (dengan arti, penerapan kultur salah stau SARA di keseluruhan Indonesia) di Indonesia terjadi.

Kalau anda bilang Indonesia itu miskin, siapa bilang? Kekayaan alam dan manusia kita tak terhitung, bahkan membuat iri begitu banyak negara.
Tapi kalau anda bilang Indonesia itu kaya, mengapa kita ngutang mulu?

Kalau anda bilang orang Indonesia itu pintar, mengapa masih banyak pengangguran dan angka buta huruf?
Tapi jika anda bilang orang Indonesia itu bodoh, berapa prestasi akademis internasional yang sudah kita peroleh?

Kalau anda bilang hukum Indonesia itu bobrok, berarti anda belum membaca idealnya sistem hukum Indonesia.
Tapi jika anda bilang hukum Indonesia oke, mengapa angka penyelewengan hukum itu tinggi?

Kalau anda bilang Indonesia negara penuh budaya malu, mengapa orang-orang bisa melakukan seenak jidat penyelewengan-penyelewengan?
Tapi kalau anda bilang Indonesia tidak tahu malu, mengapa kalau disuruh melakukan sesuautu secara sukarela (menjawab pertanyaan di kelas misalnya) tidak ada yang mengangkat tangannya?

Kalau anda bilang Indonesia itu buruk rupa, mengapa begitu banyak tempat wisata yang dikunjungi dunia?
Tapi kalau anda bilang Indonesia itu indah, mengapa begitu banyak duka di Indonesia?

Kalau anda bilang orang Indonesia itu tidak ramah, mengapa kami menyambut anda dengan senyum?
Tapi kalau anda bilang Indonesia itu ramah, mengapa kami mengusir pengunjung negeri kami dengan bom dan teror?

Kalau anda bilang Indonesia baik-baik saja, mengapa bisa ada tulisan ini?
Tapi kalau anda bilang Indonesia penuh masalah, mengapa tidak ada yang berusaha memperbaiki?

Lima Anak Hilang
Kedinginan, kesepian, ketakutan
Tak ada yang memperdulikan

Lima Anak Hilang
Maju di baris terdepan
Demi tanah impian
Namun malah dilupakan

Lima Anak Hilang
Yang Terlupakan
Dalam penderitaan
Tak pernah ditanyakan

Lima Anak Hilang
Dan satu pun tak tahan
Ia tinggalkan para teman
Demi api unggun kenyamanan

Lima Anak Hilang
Kini telah kehilangan teman
Satu setelah seratus delapan delapan

Kisah berikut ini adalah fiksi. Kesamaan tokoh, waktu, dan tempat hanyalah kebetulan dan bukan unsur kesengajaan.
Terjemahan: Jangan ada pake acara tersinggung ye! Ini nulisnya iseng doank! Cuma buat lucu-lucuan. Kalo gak lucu ya maap.

T: Dengan …?
J: Jingga.

T: Nama lengkap?
J: Bajinggan Tidamaloasa.

T: Mbak Jingga kuliah di mana?
J: Di Unhyd (Universitas Hydrargyrum, universitas internasional paling terkenal se-Indonesia. Paling mahal, namun kualitas pendidikan menjanjikan)

T: Oh hebat donk. Biaya masuknya bukannya tinggi ya?
J: Hah? Biasa aja. Berapa ratus Em gitu. Lupa.

T: Milyar Mbak?
J: Em, Em! Million! Plis deh.

T: Fakultas mana Mbak?
J: Kedokteran lah. Gak mungkin kan masuk yang lain. Apaan tuh? Heh.

T: Lho? Napa Mbak?
J: Plis deh. Profesi yang cocok buat gue ya dokter! Emang kebayang gw jadi kuli bangunan cantik gini?

T: (istrinya kuli sih kebayang mbak. Kuli yang sangat menderita tapi, istrinya elo. Udah jelek, songong lagi) Tingkat berapa Mbak?
J: Tingkat 2 sih, kayanya. Semester 4 tingkat 2 kan ya?

T: Masuk jalur apa Mbak?
J: Owh, itu tyuh, apa namanya, SMOGTB (Seleksi Masuk Orang Goblok Tapi berKuasa)

T: Ow. Katanya Mbak anaknya Prof. Manjayin?
J: Iya, gitu deh. Tapi gua masuk sini gak pake backingan ya! Gua ingetin dari awal. Biar SMA gua gak dapet ranking, gua gak goblok-goblok amat!

T: (Belum ditanya udah ngebocorin sendiri) Kuliah Kedokteran bukannya susah ya Mbak?
J: Ya, you kan punya temen. Semua kan cuma masalah duit.

T: Di kampus ada kegiatan apa aja, Mbak?
J: Ya kuliah. Gimana sih? Masa maen cap sa?

T: Maksudnya ikut kegiatan kemahasiswaan, gitu?
J: Aduh, males banget sih begituan. Orang goblok doank tuh yang mau sibuk buat orang. Kaya baksos gitu? Plis deh.

T: Baksos, Mbak?
J: Iya apalah namanya. Itu, yang jadi orang sok baek bantu-bantu ke kampung-kampung gitulah. Kurang kerjaan banget sih.

T: (Saya nggak goblok Mbak, saya tahu baksos) Maksudnya kenapa dengan baksos Mbak? Gak tertarik?
J: Ya iyalah ya. Masa cantik begini disuruh jadi babu di tempat orang? Mana nginep pake di rumah jelek bau lagi! Pake WC jongkok, bayangkan! Ih, amit-amit. Lagian, ngapain juga nyusahin diri sendiri. Ngebantuin orang miskin. Udah miskin ya bodo amat. Siapa suruh gak mau kerja.

T: Bukannya nanti lulus bakal begituan juga Mbak, PTT gitu?
J: PTT? Ngapain? Udah gak wajib kok. Mendingan gw langsung ngambil spesialis.

T: Mengapa gak tertarik PTT Mbak? Katanya kan menambah pengalaman?
J: Ih, tiga hari baksos aja gua gak tahan? Gimana PTT setaon? Ama orang-orang kampung setaon? Ih. Amit-amit jabang bayi.

T: Ngambil spesialis apa Mbak, ceritanya?
J: Tergantung, hihihi. Cowo inceran gua masuknya mana.

T: Oh? Yang mana Mbak?
J: Itu, yang ganteng lagi maen basket, hihihi.

T: ….
J: Aduh Mak, ganteng gilakkkkkkk!!!!!!!!

T: Siapanya Mbak?
J: Inceran gua dibilangin!

T: Ow. Maksudnya temen seangkatan, gitu?
J: Bukan.

T: Jadi?
J: Ya ganteng aja, hihihi.

T: Jadi gak kenal?
J: Nama doank cukup lah, abis itu tinggal bikin dia putus aja ama yang sekarang. Itu tuh, cewe jelek di ujung sono.

T: (kayanya ini anak ada kelainan saraf deh. cakep jelek dari tadi ketuker2) Ya udah deh Mbak. Cukup sekian. Makasih ya Mbak.
J: Kembali. Diterbitin di mana tuh Mas, btw?

T: Hah? Diterbitin? Saya nanyanya kan cuma iseng Mbak. (Lagian, isinya begituan. Mendingan gua ngemeng sendiri)
J: Eh? Sialan lo. Kirain buat majalah apa gitu. Gara-gara lo gua telat menipedi nih!

T: Ye…. Maap, kalo gitu.

Note ini berbicara masalah filosofi; bukan masalah cara. Note ini menunjukkan sisi gelap dari sebuah senioritas. Tidak semua senior melakukan hal yang sama, note ini hanya mengupas mereka yang melenceng dari jalannya. Note ini hanya membahas sisi neraka, tidak membahas sisi sorganya, sesuai dengan judulnya. Kalau anda merasa ini tidak adil, maafkan saya.

___________________________________________________________________________________________

Yang paling tahu, Yang Lebih Tua
Yang paling benar, Yang Lebih Tua
Yang Muda, tahu apa?
Yang Muda, diam saja!

Yang terbaik, Cara Yang Lama
Bodohlah kau yang ingin perubahan
Salahlah kau yang ingin perubahan
Keris Seribu Tahun tentu lebih tajam dari sekedar belati saja

Jilatlah bokong yang lebih tua
Injaklah kelamin yang lebih muda
Mengapa?
Memang itulah seharusnya
Kau tak tahu apa-apa
Lebih baik diam saja
Sebelum mati dirajam petaka

Yang tua yang berkuasa
Yang muda mati saja
Rantai setan tanpa jeda
Bagaimana mungkin usainya
Kalau tidak dari kita?

Eh!
Apa ini yang sedang kau baca!
Kau berani menghina yang tua?
Pilih mati atau hilang nyawa?

___________________________________________________________________________________________

UUD PENYIKSAAN JUNIOR


PEMBUKAAN
Bahwa sesungguhnya penyiksaan Junior itu adalah kewajiban setiap manusia, oleh karena itu maka segala bentuk perubahan harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kesewenang-wenangan yang disamarkan dalam peri-”kehormatan”.

ISI
Pasal 1
Senior selalu benar.

Pasal 2
Jika Senior salah, lihat pasal 1.
___________________________________________________________________________________________

“… itu ada, karena orang-orang hanya ingat ketika mereka menginjak, dan lupa saat mereka diinjak.”

Catatan Penulis:
Ada yang merasa tersindir? Waduh, masa sih? Bukankah senioritas itu tanpa cacat? Mengapa harus tersinggung oleh suatu hal yang MENURUT ANDA omong kosong?”Yeeee, tersinggung berarti bener….”
(Sebuah kata-kata bijak yang beredar umum di kalangan anak SD)

Indonesia adalah bangsa yang paling terkenal akan budaya malu.

Saya malu akan ketidaktahuan saya. Saking malunya, saya akan berpura-pura kalau saya tahu, atau lebih malu lagi, saya tidak mau tahu.
Saya malu akan kesalahan yang saya perbuat. Saking malunya, saya menyembunyikan kesalahan itu dan tidak mau meminta maaf dan bertanggung jawab.
Saya malu akan pelanggaran peraturan yang saya sengaja lakukan, sehingga saya akan melakukannya diam-diam dan tidak mau bertanggung jawab.

Indonesia dengan budaya malunya? Omong kosong.

Saya malu akan ketidaktahumaluannya saya.
Saya juga malu akan ketidaktahumaluannya saya mengaku memiliki budaya malu.
Saya tidak tahu malu.
Saya malu akan hal itu.
Seharusnya.
Saya malu.

Rodri Chen A.K.A Zoethaeque

adalah seorang mantan mahasiswa kedokteran di Universitas Indonesia, angkatan 2006 (tersangka ditahbiskan menjadi dokter tanggal 24 September 2011). Keturunan Tionghoa, seorang Buddhis, dan seorang Idealis. Dicurigai memiliki gangguan manik-depresif dan obsesif-kompulsif ringan terhadap tata bahasa, serta sedikit waham, maka dokter menganjurkannya untuk menulis agar mampu menghilangkan ide bodoh dari kepalanya.

Daftar Coretan Bodoh

May 2012
M T W T F S S
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Beberapa Lencana Saja

Internet Sehat
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
100 Blog Indonesia Terbaik
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.