You are currently browsing the category archive for the ‘Pengembangan Hidup dan Pemberi Jiwa’ category.
Marilah kita tunduk sejenak, menutup diri dan membuka hati sejenak, berdoa bersama untuk sebuah Indonesia Raya.
Bersyukurnya kita akan karunia yang luar biasa. Bersyukurnya kita atas Indonesia yang kaya. Bukan hanya kaya materi saja, namun yang paling utama, kaya budaya yang luar biasa. Dari ujung barat ke ujung timur, dari puncak utara, ke dasar selatan. Melimpah ruah kekayaan bangsa. Bersyukurlah kita akan kekayaan Indonesia yang luar biasa.
Namun, tundukkan hati kita lebih dalam lagi. Menangisi kekayaan bangsa yang hampir mati. Menangisi budaya bangsa, yang kini lebih dihargai negeri lain. Menangis dan memohon ampunlah pada Ibu Pertiwi, karena telah menodai, merobek, dan merusak warisan bangsa. Masih pantaskah kita memamerkan Indonesia, ketika Putra-Putri Bangsa bahkan tak menghargai? Masih pantaskah kita mengakui diri sendiri, sebagai insan negeri? Masih pantaskah kita marah, ketika negeri seberang lebih mencintai budaya kita?
Memohon ampunlah, menangislah, dan menghambalah. Namun itu semua tak lagi berarti. Bagai anak durhaka, telah menodai perih hati Ibu Pertiwi. Nusantara, masihkah kami pantas menjadi anak-anakmu?
Tegakkan kepala. Jejakkan tekad. Kan menjunjung budaya bangsa. Kan mencintai negeri kita. Nusantara. Indonesia.
Bhinneka Tunggal Ika. Tetaplah berkibar dalam lubuk jiwa. Tetaplah jiwa menyatu dalam satu bendera. Merah Putih, jiwa Indonesia Raya. Indonesia, Sejuta warna, satu jiwa. Indonesia Raya, Indonesia Jaya. Berbeda, namun tetap satu jua. Indonesia.
Pemuda Bangsa, bergerak dalam Nasionalisme Indonesia.
(dibawakan dalam Doa Bersama Talkshow 5 UKM Agama UI, We Love You Full, 30 Oktober 2009)
Cerita ini bukan ceritaku, ini cerita seseorang yang, yah, berkepentingan dalam hidupku. Namun ini bukan cerita tentang ia dan aku, ini cerita tentang ia dan hidupnya.
Ia adalah seorang mahasiswi tingkat semi-akhir, yang membuatnya harus mengambil magang sebagai tugas laporan akhir. Ia melamar di tiga tempat; katakanlah A, untuk Asyik, B, untuk Buruk, dan C, untuk Cukup.
Tempat ia melamar pertama adalah A. Suasananya begitu menjanjikan, begitu mendambakan. Indah nian, penuh harmoni dan janji-janji. Namun ia tak ingin berpangku tangan menghitung ayam dari telurnya. Ia pun melamar di B.
B tidaklah seindah A. Begitu keluar dari pintunya, ia sudah yakin bahwa B bukanlah pilihan yang mungkin baginya. Terlalu sulit. Namun ia tak putus asa. C pun disambutnya.
C begitu megah, begitu angkuh. Jauh lebih menjanjikan, namun jauh lebih menuntut. Ia tak berharap banyak darinya, namun semuanya runtuh begitu saja, ketika A menyatakan kata maaf. A, yang telah menjanjikan langit dan bumi untuknya, menyatakan kata maaf. Ia hanya bisa berharap pada C.
Sesudah mendaki gunung golok mengarungi lautan darah, lagi-lagi takdir menoreh hatinya. C menyatakan tidak. Hancurlah hatinya, hancurlah jiwanya. Kini ia tak mampu lagi berkata apa-apa.
Ketika tali jerat mulai menggores lehernya, ketika tangis hampir mengering rasanya, telepon pun berbunyi.
B, yang tak pernah kelihatan meyakinkan, menyatakan kata Ya.
Ia hampir tak percaya. Namun begitulah adanya, senyum di bibir tak berarti tangan terbuka, kernyit di kening tak berarti belati di baliknya.
“Ngapain gua peduli? Yang lain juga gak peduli. Apa bedanya?”
“Kok gua gak boleh? Yang lain juga ngelakuin kok. Apa bedanya cuma satu orang?”
Atau yang paling sering:
“Yang lain juga ribut kok. Kok gua doang yang dimarahin?”
Kalimat di atas sering sekali saya dengar, dalam kasus apapun. Meminta tolong, menegur, apapun itu. Alasan selalu demikian; bahwa satu orang saja tidak berarti apa-apa.
Judul di atas bukannya sok bahasa Inggris atau apa, melainkan sebuah penekanan penting pada sebuah kata One dalam bahasa Inggris, yang berarti satu; juga berarti seseorang. Artinya, satu saja dapat mengakibatkan perubahan; siapapun dapat mengakibatkan perubahan. Walaupun cuma seorang.
Dikit-dikit lama-lama jadi bukit. Peribahasa ini sepertinya sudah sangat terkenal di kalangan semua orang yang pernah menginjak bangku sekolah SD. Namun, tidak banyak yang memahami artinya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semuanya mengharapkan sesuatu yang serba instan, yang langsung kelihatan hasilnya. Mana mungkin?
Seandainya saja semua orang di dunia ini menyadari betapa pentingnya diri mereka sendiri, betapa besarnya perubahan yang dapat mereka sendiri lakukan, maka tulisan ini tidak perlu ada. Seandainya semua orang menyadari bahwa sampah harus dibuang pada tempatnya, maka tak ada lagi diperlukan tulisan peraturan “Dilarang buang sampah di sini!” Semua itu berasal dari satu hal; dari diri sendiri. Dari sebuah ketunggalan. Dari satu orang saja. Satu orang ditambah satu orang dan seterusnya akan berujung pada semua orang. Sederhana? Sederhana. Semua berawal dari satu orang saja.
Seandainya, seandainya saja, hanya satu orang yang menyadari hal tersebut. Apakah perbuatannya sia-sia? Apakah jika seseorang berhenti saja merokok satu batang perhari, bukankah ia sudah menghemat 365 batang rokok setahun? Dalam setahun dia sudah bisa membeli ponsel baru. Dan jika sesuatu yang ia perbuat adalah sebuah hal yang besar, bukankah ia akan menjadi inspirasi untuk orang lain?
Florence Nightingale hanya seorang perawat, namun ia sekarang menjadi inspirasi banyak orang dalam hal keperawatan yang sepantasnya. Mother Theresa hanya sendiri, namun kini ia menjadi panutan banyak orang, bahkan kini telah berdiri sebuah yayasan bernama Missionaries of Charity. Mahatma Gandhi, menjadi inspirasi untuk orang-orang seperti Martin Luther King, Nelson Mandela, Aung San Suu Kyi, dan sebagainya. Dan orang-orang besar itu menginspirasi orang lain, tidak dengan ucapan, namun dengan perbuatan. Apa yang mereka perbuat diawali oleh sebuah hal kecil saja. Sang Buddha pada awalny sempat berpikir untuk tidak mengajar, namun ajaran pertamanya kepada 5 orang saja menjadi awal sebuah agama terbesar di dunia. Sebagian besar langkah besar diawali oleh satu orang saja, dan satu perbuatan kecil saja.
Sebuah cerita kecil dalam bahasa Inggris, tidak diketahui pengarangnya, tidak diketahui kapan ditulis, namun semoga dapat menginspirasi.
This is a little story about four people named Everybody, Somebody, Anybody, and Nobody.
There was an important job to be done and Everybody was sure that Somebody would do it.
Anybody could have done it, but Nobody did it.
Somebody got angry about that because it was Everybody’s job.
Everybody thought that Anybody could do it, but Nobody realized that Everybody wouldn’t do it.
It ended up that Everybody blamed Somebody when Nobody did what Anybody could have done !
Seandainya saja, seseorang (Somebody) memutuskan untuk melakukan sesuatu, maka cerita di atas tidak akan pernah lahir.
Jadi? One makes a difference. Do it now!
“Once upon a time….” (Pada zaman dahulu kala….)
“And they lived happily ever ever after….” (Dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya….)
Dua kalimat di atas adalah kalimat yang menjadi trademark sebuah fairy tale, atau terjemahan jeleknya dongeng. Kisah-kisah yang didengung-dengungkan kepada semua anak-anak (oke, hampir semua), dengan pesan moralnya masing-masing. Dongeng-dongeng kecil itupun berkembang menjadi “dongeng-dongeng” untuk remaja dan dewasa, dalam bentuk novel, film, bahkan lagu beraneka genre. Lebih kompleks, lebih ribet, namun semuanya menyajikan sebuah hal yang sama: sebuah dunia yang lebih baik, sebuah dunia impian. Sebuah khayalan.
Mengapa fiksi begitu digemari? Jawabannya sederhana: karena fiksi menyajikan sebuah dunia yang lebih “menarik” dibandingkan dengan kehidupan kita yang datar. Sebuah dunia yang jauh lebih “menantang” dibandingkan kehidupan nyata yang, anda tahulah.
Namun, para pengarang terkenal mengeluarkan kata-kata berikut ini:
“Truth is always strange; Stranger than fiction.”
Lord Byron (1823), Don Juan, Canto XIV, Stanza 101.
“Life is infinitely stranger than anything which the mind of man could invent. We would not dare to conceive the things which are really mere commonplaces of existence. If we could fly out of that window hand in hand, hover over this great city, gently remove the roofs, and peep in at the queer things which are going on, the strange coincidences, the plannings, the cross-purposes, the wonderful chains of events, working through generations, and leading to the most outre results, it would make all fiction with its conventionalities and foreseen conclusions most stale and unprofitable.”
Sir Arthur Conan Doyle, A Case of Identity (1891)
“Good books tell the truth, even when they’re about things that never have been and never will be. They’re truthful in a different way.”
StanisÅ‚aw Lem, “Pirx’s Tale” in More Tales of Pirx The Pilot (1983)
Truth is stranger than fiction, but it is because Fiction is obliged to stick to possibilities; Truth isn’t.
Mark Twain, Following the Equator (1897), ch. 15
Dan masih banyak lagi di Wikiquote.
Apa arti dari ini semua? Artinya, bahwa sebenarnya, fiksi lahir dari kenyataan. Bahkan, kenyataan lebih fiksi daripada fiksi. Kalau begitu, mengapa hidup terasa lebih datar? Ada dua alasan yang mungkin; anda menutup mata, atau anda belum menikmati hidup yang sebenarnya.
“Once upon a time….” berarti suatu hal yang PERNAH terjadi, namun sudah dilupakan kapan, di mana, dan bentuk persis kejadiannya. Artinya, anda bisa menjadi tokoh utama dongeng anda sendiri. Karena setiap fiksi berbasis dari kenyataan.
Life is the most wonderful fairy tale. Saya tidak tahu di mana saya mendengar ini, namun, itulah kenyataannya. Sekarang pertanyaannya adalah, mampukah anda mengukir dongeng anda sendiri supaya berakhir dengan “And they lived happily ever ever after….”?
PS: Enchanted adalah bentuk yang bagus sekali dari integrasi sebuah dongeng dalam kehidupan nyata. Cobalah menontonnya.
“Dia selingkuh!”
“Dia udah gak perhatian sama aku lagi.”
“Kayanya dia udah berubah.”
“Dia dulu gak seperti ini….”
Kata-kata ini sering teriang-iang di telinga saya. Apakah dari curhat seseorang, reality show “Apakah Kamu Masih Mencintaiku”, maupun dari berbagai media fiksi (walaupun paling sering dari curhatan). Saya mungkin bukan seseorang yang berpengalaman dalam hubungan pacaran, apalagi pernikahan, namun dari pengamatan saya sebagai orang luar, maka masalah utama dari sebuah hubungan laki-laki dan perempuan seperti itu hanyalah sederhana, komunikasi.
Banyak sekali masalah yang terjadi di antara kedua pasangan, yang penyebabnya sederhana; wanita mengharapkan pasangannya tahu tentang sebuah masalah tanpa membicarakannya (emang cowonya cenayang apa ya), dan seperti biasa, para laki-laki tidak cukup peka untuk ngeh soal hal seperti itu. Hampir selalu seperti itu. Sang perempuan menolak bicara, berharap sang lelaki bisa menebak sendiri (Kan katanya perhatian! Gitu aja gak bisa!), dan para lelaki, seperti biasa, “no news is good news“. Walaupun terkadang yang terjadi adalah sebaliknya. Hal sesederhana inilah yang mampu menghancurkan sebuah hubungan yang sudah dibina bertahun-tahun.
Ada juga pasangan yang salah satu pihaknya, saat zaman pdkt, melakukan “jaim to the ekstreme“. Sisi yang ditunjukkan kepada pasangannya adalah sisi termanis dia, dan menutup-nutupi sisi asamnya. Namun, lambat laun, semua topeng pasti akan luntur. Demikian juga halnya dengan kasus di atas, suatu saat nanti sisi asam yang disimpan dengan rapi oleh sang jaimer akan terbongkar. Dan saat itulah semuanya akan berantakan.
Hal lain yang mungkin sederhana adalah ketidaktegaan untuk mengungkapkan ketidaksukaan akan suatu hal pada pasangannya. Biasanya terjadi pada pasangan baru, ketidaksukaan ini akan bertumpuk dan pada akhirnya, meledak suatu saat.
Masih banyak lagi permasalahan yang terjadi pada pasangan, lama maupun baru. Namun, akar permasalahannya hampir selalu sama (akar yang lain mungkin adalah ketidaksetiaan), yaitu keterbukaan, kejujuran, dan komunikasi. Ketiga kata yang sebenarnya hampir mirip maknanya (bukan arti) inilah akar masalahnya. Jadi, solusinya apa? Baik prevensi maupun kurasi masalah akibat ini adalah sama, keterbukaan, kejujuran, dan komunikasi itu sendiri. Lagi pula, apakah ketiga kata tersebut sulit untuk dilakukan? Bukankah anda sudah berkomitmen setia saat memilih seseorang? Ingat, perasaan menggebu-gebu yang dinamakan cinta hanya bertahan selama setahun. Sisanya komitmen. Dan komitmen, dibangun atas rasa percaya, dan rasa setia. Rasa percaya, dibangun atas lagi-lagi, keterbukaan, kejujuran, dan komunikasi.
“Once upon a time, we really loved each other. But as time went by, there just got to be all these things… little things, stupid things, that were left unsaid. And all these things that left unsaid piled up like the clutter in our storage room. And after awhile, there was so much that was left unsaid that we barely said anything at all.”
“Well… Why didn’t you just say ‘em then, Dad?”
“I don’t know, Gabe. I kinda wish I had.”
(Adam – Little Manhattan)


