You are currently browsing the category archive for the ‘Cerita Diri’ category.
Entah mengapa, hari itu mengingatkanku kepada masa kecilku yang manis. Perjalanan kurang dari satu jam sebuah KRL Ekonomi Jabodetabek dengan berbagai fenomenanya yang biasa, membawaku kembali tersenyum sendiri seperti orang tolol di tengah keramaian kereta, mengingat kembali masa kecilku yang sebenarnya sederhana, namun membuatku ingin kembali.
_________________________________________________________________
“Gunting, gunting, gunting….”
Aku melihat sosok pedagang gunting penjahit hitam yang cukup unik, dan langka untuk zaman sekarang.
“Tajam, gunting langka….” sahut sang penjual sambil mengguntingi potongan karton yang ia bawa.
“Mama kan sudah bilang, gunting Mama jangan dimainin,” omel Mama sambil melototiku yang menunduk, merasa bersalah. Aku memang suka mengguntingi segala bentuk kardus permen dan makanan ringan lainnya. Kardus-kardus kecil warna-warni itu banyak bertebaran di sekitar tong sampah minimarket dekat rumahku. AKu suka mengambil kardus kecil yang masih bersih, yang memiliki tokoh maskot di atasnya, lalu menggunting keluar tokoh kecil tersebut. Gunting yang menjadi korbanku? Sebuah gunting hitam berat milik Mama, sebuah gunting khas penjahit, yang memiliki besi semberani di ujungnya. Mama memang suka menjahit. Di masa mudanya, sebelum menikah, Mama memang menjadi penjahit pesanan, namun setelah menikah maka konsumen setianya menjadi keluargaku. Gunting kesayangannyalah (yang memang sukar dicari lagi, katanya sih gunting impor Eropa) yang menjadi perkakas andalanku, sekaligus juga bahan diomelnya aku. Alasannya karena gunting tersebut menjadi tidak tajam lagi setelah dipakai untuk menggunting kertas karton setebal itu.
_________________________________________________________________
Seorang anak dengan tergesa-gesa berlari menyusuri peron stasiun, menyelip di antara pintu-pintu kereta yang hanya terbuka sedikit, macet sepertinya. Lalu dengan enaknya, bergelantungan di luar gerbong kereta, dengan hanya kaki dan jari tangannya yang berada di dalam kereta. Entah apa tujuannya. Mengumbar nyawa? Entahlah. Namun, colekan seorang ibu akhirnya membuatnya menurut, menyelipkan diri ke dalam kereta, menuruti arah telunjuk sang ibu untuk kemudian duduk manis di atas hamparan koran, di sudut gerbong kereta. Tampak di balik punggungnya, sesosok ransel yang hampir sama ukurannya dengan dirinya.
“Napa sih tasmu gede banget? Pasti gak nyusun roster ya! Bukunya dibawa semua. Kaya Kokomu aja….” Aku hanya bisa diam, tak berani menyanggah, namun tak berani juga mengakui. “Ntar kamu jadi bungkuk, baru tahu,” lanjut Mama. Aku hanya bisa mengiyakan….
_________________________________________________________________
Sesosok kumal menyelip dari sela pintu macet kereta. Sekujur tubuhnya sangat kotor, berlapiskan debu. Banyak robekan di sana sini pakaiannya. Ia langsung duduk saja di pinggir pintu kereta, dan diam di sana.
“Jangan ganggu orang gila itu ya, ntar kamu dikejar.”
Aku hanya mengangguk, menatap sosok berkepala licin tak berambut, yang berjalan tanpa tujuan. Sosok itu adalah sosok yang dikatakan gila oleh seluruh kota. Sangana namanya. “Putar….” ejekan anak-anak SD kala itu. Sangana akan berputar layaknya seorang penari balet, dan anak-anak pun akan tertawa. Selesai? Tidak. Ia akan mengejar anak-anak itu kemudian. Bagaimana kalau tertangkap? Entahlah. Tak pernah terdengar siapapun yang pernah tertangkap Sangana.
Ada juga si Ngena, sesosok wanita gila. Katanya sering berjalan tanpa busana. Entah benar tidaknya, aku tak pernah melihat sosoknya. Sosok wanita yang gemar tanpa busana yang kutahu hanyalah tetanggaku, yang gemar mandi di udara terbuka di plafon rumahnya. Kini ia katanya berada di Jakarta, bersama dengan keluarganya. Ia telah diceraikan suaminya, yang tak tahan dengan tingkah lakunya. Suaminya? adalah sesosok pria sedikit gemuk botak yang berjualan bahan pangan di samping kanan rumahku. Tanah kosong di masa kecilku kini telah menjadi rumahnya. Rumah itu, setelah ditinggalkan penghuni awalnya, tak pernah lagi dihuni oleh orang yang tetap. Seorang dokter yang menyewa di sana, akhirnya menjadi seorang sales asuransi. Kini rumah itu hanya menjadi gudang.
Ada juga Simamora. Hobinya meminta-minta, kadang-kadang dengan memaksa. Sosoknya tinggi besar, menakutkan, keriting, hitam. Kata-katanya,”Seribu Bos, rokok….” telah menjadi trademarknya. Papa sering menipunya, berpura-pura ia memasuki toko yang salah.
Bicara soal minta-minta. Kota kecilku sering dipenuhi preman kecil yang sering meminta-minta dari rumah ke rumah. Ada satu sosok mantan preman yang masih ada, pincang jalannya, selalu membawa tongkat. Berbeda dengan yang lainnya, yang meminta dengan gertakan dan ancaman, ia dengan sabar, duduk diam saja tak mau pergi. Kini caranya telah ditiru banyak preman lainnya, karena ternyata gertakan dan ancaman tak berguna buat Papaku tercinta. Suatu kali ia membawa sesosok preman baru (preman aja ada magangnya). Tak sabar si preman baru, ia mengeluarkan kata ancaman,”Kita hancurkan aja deh tokonya.” Ancaman yang salah. Pamanku yang berada di sana langsung bersiap mencabut sebatang besi per mobil, siap menghantam si sosok tengik kurus itu. Terburu-buru, si pincang memaki si preman baru, lalu segera menariknya keluar. Sang preman baru masih harus belajar.
_________________________________________________________________
Kereta menerobos gelapnya terowongan kereta.
Lantai tiga rumahku. Koko menantangku untuk bergelap-gelap di sana. Memang, di atas sana, yang masih belum ada yang menempatinya, ketika malam tak ada lampu yang dinyalakan. Di sana, keringat dingin menerkamku. Aku seperti bisa melihat sosok-sosok putih di ujung mataku. Berpura berani, akhirnya Kokoku menyerah, membawaku turun kembali ke bawah. Ia telah kalah.
Lantai tiga akhirnya dibangun kamar tidur baru. Untuk kedua Kokoku. Terkadang ia mengajakku untuk tidur bersamanya. Gerah rasanya di sana. Sepi mencekam rasanya di sana. Walau di ruangan itu telah terjadi berbagai kisah lucu, di mana Koko keduaku cekikikan mengintip Koko pertamaku berganti pakaian, di mana kedua Kokoku yang lasak sanggup bergelantungan di tempat tidur, dengan hanya pantat di atasnya, tetap bertahan lelapnya, sebelum dipindahkan oleh Mamaku. Aku akhirnya tak tahan, turun kembali ke ranjangku yang nyaman.
Tak jarang aku tertidur di sofa. Tontonan TV terkadang membosankan, apalagi aku tak mengerti isinya. Kalau sudah begitu, Papalah yang bertugas menggendongku kembali ke kamar. Kadang aku mengisenginya, berpura-pura tertidur, untuk ketika ia sudah menaruhku di kasur, aku akan bangun dan tertawa.
Sofa di ruang keluarga. Aku teringat saat aku mulai membaca komik pertamaku selain komik anak-anak. Komik Kenji, 21 jilid, kuhabiskan dalam sehari. Hari pertamaku diizinkan boleh tidur lebih malam dari biasanya. Mengapa harus begitu? Komik itu harus dikembalikan keesokan harinya, pada teman Kokoku. Komik itu memang ia yang pinjam. Apa yang terjadi? Satu komik hilang, mengendap lebih dari 5 tahun lamanya, baru ditemukan pada akhirnya.
Majalah Donal Bebek adalah majalah pertamaku, majalah langgananku. Tak bosan-bosannya aku membacanya, sampai aku hapal gambar dan teksnya. Aku memang tergila-gila membaca, sampai novel remaja Kokoku kuhajar diam-diam, karena dilarang Mamaku, dengan alasan, bukan untuk seusiaku. Kadang aku meringkuk di lantai tiga, di bawah terangnya matahari sore, mengulang-ulang majalah Donal Bebek itu. Tak heran, kini miopi mataku melewati angka delapan.
Di lantai tiga itu pula markas tempat mainku. Fantasi liarku kuluapkan di sana, membangun kota dan militernya. Perang. Layaknya permainan anak lelaki pada umumnya.
_________________________________________________________________
Sesosok lelaki tua memasuki gerbong kereta. Meletakkan kedua keranjangnya yang sudah kosong dan bambu pemikulnya.
Aku menatap iri pada batang bambu yang dibawa oleh sang penjual tapai. Betapa inginnya aku memiliki tongkat itu. Jadinya aku tak perlu lagi meminjam tongkat milik sepupuku, kalau aku bermain petualangan lagi nantinya.
Petualanganku sangat luar biasa. Dari berkelana dengan sebuah kapal (dari kotak kardus besar helm), berkelana dengan kaki, menjadi mata-mata super, semuanya. Permainan itu akan terus menerus sampai suatu saat nanti, akan berhenti. Ketika Cicinya pulang. Dan mereka pun akan bertengkar. Dan aku pun pulang. Permainan sudah selesai.
“Rodri itu memang menyebalkan!” Kata-kata itu begitu menhunjam jiwa kanak-kanakku, ketika aku terlambat masuk les bahasa Inggris karena mengikuti Pramuka. Yang mengucapkan? Cici sepupuku. Sosok yang sama. Ucapan itu entah dari mana ujung pangkalnya, namun ucapan itu membuatku tak pernah lagi bertegur sapa denganya sampai beberapa tahun ke depan.
_________________________________________________________________
Sesosok pengamen masuk ke dalam gerbong, meniup harmonikanya.
Aku menatap sebal pada harmonika biru di tanganku. Tak mampu aku memainkannya seperti semua saudara dan Mamaku. Mungkin itu pertanda awal aku memang tak layak bermain musik, namun usaha itu tak memupus harapanku, sampai aku tertarik bermain gitar. Ketertarikan itu mati. Aku tak mau lagi bermain musik.
_________________________________________________________________
Aku tak bisa bermain gitar. Aku tak bisa berolahraga. Aku tak suka bermain video games bola. AKu benar-benar berbeda dengan para remaja lelaki pada umumnya. Seperti seorang alien rasanya.
_________________________________________________________________
“Bagus kok Rodri mau jadi dokter, jadi nanti kalau Suster sudah tua, sudah bungkuk, nyari Rodri buat diobati, dikasih gratis ya.” Ucapan ini diucapkan oleh Suster Kepala Sekolah TK-ku, yang melarangku melompati kelas, dengan alasan supaya aku masih bisa bermain-main dengan anak seusiaku. Ia meninggal jauh sebelum aku menginjak bangku SMP. Ia tak pernah melihatku sosokku mengenakan jas putih.
Aku menatap sosok anak SMP yang bergelantungan dengan riangnya di pintu kereta. Entah apa tujuannya. Mencari jati diri? Mungkin. Dan aku tersenyum, saat nasehat seorang penumpang tak mereka perdulikan. Dan aku teringat pada masa remajaku, masa pemberontakanku, masa pencarian jati diriku.
_________________________________________________________________
Dan kini, saat aku menatap rangkaian patah-patah hidupku kembali, masa kecilku kembali, masa laluku kembali, aku tersenyum, pada diriku sendiri, pada semua orang yang telah mengukir hidupku di sini. Terima kasih semuanya, kini inilah seorang aku.
Dulunya http://zoethaeque.wordpress.com, namun untuk kemudahan mengingat alamat, maka dipindah kemari.
Darah berarti intinya
Perak berarti mulia
Pelangi berarti aneka warnanya
Aku menangkap seekor pelangi dengan panca indera
Menggores kakinya dan mencuri setetes darahnya dengan jiwa
Menyaring permukaan peraknya dengan asa
Mengambil Darah Perak Pelangi dan menjadikannya tinta
Menggoresnya dengan bulu pena
Di atas kanvas putih maya tujuh aksara
Lalu membentangkannya di atas langit putih bernama kata
Darah Perak Pelangi
Goresan tinta aneka warna
Melukiskan hidup yang juga beraneka warna
Dari sudut pandang saya
Hanya sekedar celoteh belaka
Selamat membaca
Jangan lupa meninggalkan tinta maya anda
Walau sekedar sapa belaka
- Harimo (OMG, lain kali gak boleh keluar tengah malam cuma cewe bertiga! Mau diculik terus dijadiin TKW ilegal?)
- Martabak dengan dua lilin (Ketahuan gak sempet mesen kue)
- Telur dan tepung (Hei! W bukan gorengan!)
- Dan DIPAKSA mandi lagi buat nyoba kemeja batik kado mereka! Ck ck ck.
2. Morning Surprise
- Lita, Mando, dan Shula (Thanks Guys!)
- A Caramel cake (yang dikasih tahu sehari sebelumnya. Surprise di mananya?)
- Seekor babi “kecil” berwarna pink, OMG, yang dinamai Lita (Oke Lit, namanya Roli kalo ada u)
- Sebuah pembatas buku flanel gajah
- Sebotol susu Bendera coklat (maaf Lit, gagal ngerjainnya, hahaha)
- Dan kado bungkus 19 lapis sebagai kado sebulanan (dengan isinya; Sang Kunci Asa)
- DUFAN! (Hari Minggu? Buset….)
3. Evening “Surprise”
- Bandar Jakarta!
- Dengan ucapan ultah yang dipesan di hadapan yang ultah (Lit, kalo kita ntar gak jadi, w bisa dibunuh ama keluarga u. Utang w udah kegedean!)
Makasih semuanya. Banget. Jangan lupa diisi Selamat Ulang Tahun untuk Diriku Sendiri. Makasih semuanya!
24 jam lagi (saya lahir tengah malam), genap sudah usiaku 20 tahun. Sebuah angka yang berarti saya telah berhasil dengan selamat melalui 20 kali revolusi bumi terhadap matahari, 240 kali revolusi bulan terhadap bumi, 7300 kali rotasi bumi, dan 630.720.000 kali durasi 9.192.631.770 periode radiasi pada transisi antara dua level hyperfine dari ground state atom Cesium-133 pada kondisi istirahat, suhu nol absolut. Dengan usia seperti itu, sudah seharusnya seseorang mengenal dirinya sendiri, agar dapat menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Seperti kata Sun Zi, “kenali diri sendiri, kenali lawan, kemenangan sudah di tangan”. Maka izinkan saya mendeskripsikan diri saya menurut versi saya sendiri.
Nama Rodri Tanoto, 陳曉陽 (Chén Xiǎoyáng). Lahir di sebuah kota kecil di pulau Sumatra, Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, Indonesia, 20 tahun yang lalu pada tanggal 2 Agustus 1989. Dibesarkan di Kabanjahe, menghabiskan masa remaja di Medan, lalu melanjutkan studinya di Jakarta, di salah satu universitas negeri ternama di Indonesia jurusan Kedokteran. Saat ini berstatus mahasiswa, sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis manis di Depok, aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan. Nilai pas-pasan, olahraga pas-pasan (mungkin buruk), duit pas-pasan, apalagi tampang, pas-pasan.
Apa yang akan kau lihat saat pertama kali bertemu seorang Rodri Tanoto? Cowo (masih kayanya), usia awal 20an (walaupun tampang pertengahan, bahkan mungkin akhir 20an, sialan lo pada), keturunan Tionghoa, rambut disisir belah kanan, berkacamata, dengan pakaian simpel ala kadarnya sekedar menutup aurat (halah, emang Tarzan). Tampang sinis (nyolot?), senyum susah. Ponsel di kantong celana kiri, kunci dan flashdisk di kantong celana kanan, dompet di saku celana belakang, dan kadang-kadang, pulpen di saku pakaian atau saku celana kanan. Suara bariton standar, cuma isinya, wuih, tajamnya bisa menebang pohon jati dari jarak seratus meter.
Kepribadian? Kesan pertama, galak, nyelekit, sinis, sarkastik, nyolot, atau apalah. Setelah mengenal lebih jauh, ternyata memiliki sisi idealis, perfeksionis (untuk beberapa hal), loyal, dan peduli. Kelainan jiwa: sedikit obsesif kompulsif mengenai bahasa, sedikit split personality alias manik depresif (suasana hati gampang berubah), dan sedikit halusinasi (yang kemudian dijadikan bahan tulisan). Eksentrik (atau nyentrik), yang hanya ditunjukkan pada kalangan sahabat yang sudah dekat.
Kekurangan? Angkuh, sotoy, suka menunda pekerjaan, kasar (dalam hal verbal), bahkan cenderung sarkastik (habis gak tahan), dan keras kepala. Semua ini terangkum dalam satu kata: nilai ego yang masih tinggi (ingat Rod, anatta!).
Kesenangan? Suka menulis, genre dan bentuk luas, membaca, segala bacaan. Menyukai hal-hal yang berbau mistik, okultis, mitologikal, historikal, dan seni visual. Tidak tergila-gila musik maupun film, namun tergila-gila dengan yang namanya novel. Saat ini menekuni Seni Tarot, manipulasi gambar digital, dan sedang mencoba mempelajari palmistri. Tidak suka olahraga (paling cuma biliar), namun suka kegiatan alam. Suka tantangan, biasanya dalam bentuk kegiatan alam tersebut, misalnya mendaki gunung, berkemah, dan kegiatan outbond. Tantangan lain misalnya dalam bentuk teka-teki. Tidak suka akan kekalahan, sehingga biasanya memilih permainan tanpa lawan (dasar egois!). Suka filosofi, berdebat tentang hidup, namun bersedia berdebat tentang apa saja, sepanjang punya modal informasi tentang itu.
“Don’t judge the book by the cover.” Mungkin halaman depan saya seperti buku cerita horor, tapi percayalah, buka dan anda akan menemukan sebuah cerita berbalut filosofi, mistik, komedi, fantasi, dan aneka warna lainnya, yang akan membuat anda menyukai, atau malah membenci, buku ini.
Kado terbaik untuk saya di hari ulang tahun kedua puluh ini adalah sebuah cerita, cerita tentang saya oleh anda, seorang Rodri Tanoto menurut versi anda. Kekurangan, kelebihan, namun diutamakan kekurangan, untuk memperbaiki diri saya. Narasi, daftar, tabular, grafikal. 3 kata, 5 kata, 7 kata, 10 kata, satu kalimat, satu paragraf, atau bahkan satu kata (atau mungkin sebuah artikel tersendiri, hm, atau novel mungkin?). Semuanya yang mengenal diri saya, walau cuma sekedar nama, atau sekedar tampang nyolot belaka, tolong banget untuk memberikan saya kado terbaik ini.
Terima Kasih.
Di Ultahku yang ke-20,
Rodri Tanoto
The Sun will always shine on me,
The Eye of Begnon will always watch upon me.
Happy Birthday to Me.
Penulis: Wakil Ketua I – Acara alias PU I
Nama Acara: Bakti Sosial SOLACE (Solid Action in Charity and Empathy) 2006/9
Waktu: 29-31 Juli 2009 (Advance: 27-29 Juli 2009)
Tempat: Desa Rawabogo, Kec. Ciwidey, Kab. Bandung, Jawa Barat
Keterangan: Note ini menceritakan Baksos terbaik FKUI ini dari sudut pandang seorang PU I, dengan tujuan hiburan, informatif, dan kenangan.
Hari Senin diawali dengan sebuah rapat briefing terakhir persiapan sebelum baksos. Seharusnya dimulai pukul 08.00, namun karena banyaknya yang terlambat (ya iyalah, ketuanya aja pake acara ketiduran segala), maka rapat ini baru dimulai pukul 09.00. Setelah berbusa-busa dan tenggorokan kering, maka tim advance pamit pada pukul 10.00. Tak disangka, salah seorang tim advance masih belum hadir juga. Andre! Seperti biasa, semua nomornya tidak ada yang bisa dihubungi. Akhirnya, pukul 10.30, si Andre yang sudah ditakut-takuti bahwa tim advance sudah berangkat akhirnya tiba di Parasit. Berbekal dendam untuk mencincang Andre dan mengukusnya di kukusan Siluman Tengkorak Putih, akhirnya tim advance pun berangkat dengan modal: Rp 750.000,00 dari tim konsumsi, dengan hanya tiga ratus ribu untuk makan 6 kali untuk 6 orang, tega nian si Lele, sisanya untuk membeli air mineral dus, dua juta rupiah sebagai biaya advance, termasuk biaya semua hal yang harus dipersiapkan oleh tim advance (baca: tukang gelar karpet merah), 5 panitia tim advance, yang terdiri atas Andry dan Benny dari seksi Konsumsi, Andre dari seksi Akomodasi, Abhi sebagai Wakil Ketua II – Suportif, dan saya sendiri, Wakil Ketua I – Acara. Patut diperhatikan di sini, bahwa Wakil Ketua Baksos menurut KBFKUI (Kamus Besar Fakultas Kedokteran UI) disinonimkan dengan “Pembantu Umum, Opis Boi witaut Opis”, sebuah mobil pinjeman dari Kevin yang baik hati (lupa merknya ama platnya, ada yang bisa bantu?), dan Pak Rojikin (bener gak sih nulisnya Kev?), sopir pribadi Kevin, sekaligus salah satu pahlawan nasional SOLACE. Berbekal peralatan seadanya, tim advance pun siap berperang.
Kami berhenti di rest area untuk makan siang. Apa? KFC! Dan habislah setengah dari total biaya makan di sana. Lalu kami pun melanjutkan perjalanan ke Kota Ciwidey, menunaikan tugas kami yang pertama, yaitu mengambil surat izin kegiatan di Dinkes. Setelah dipingpong ke sana kemari, dan telepon kami ke panitia inti di Jakarta direject dengan sinisnya, akhirnya keputusannya adalah suratnya tidak pernah ada di Dinkes, dan kami harus meminta tim pusat untuk mengirimkan faks ke Dinkes besok pagi, barulah kami bisa mengambil suratnya besok siang.
Setibanya di desa, kami pun mencari rumah Ibu Ucu, sebagai tempat menginap yang telah “disiapkan” oleh tim akomodasi.
“Permisi Ibu, kami dari mahasiswa FKUI. Katanya Ibu udah dikasih tahu kalau kami boleh menginap di sini Ibu?”
“Iya.”
“Bukan hari Rabu Ibu, tapi mulai hari ini. Nanti hari Rabu ganti orang lagi.”
“Iya.”
“Ibu sudah dikasih tahu soal hari ini?”
“Belum.”
Buset. Ternyata, dengan susah payah (Ibu Ucu pendiam banget. Ngomongnya dikit banget) kami berhasil mengetahui bahwa ternyata terjadi miskomunikasi, sehingga Ibu Ucu sama sekali tidak tahu bahwa tim advance bakalan menginap di sana. Akhirnya, dengan daya tipu muslihat Abhi, kami berhasil menginap di sana.
Rangkuman beberapa sms dari Jakarta, beberapa di antaranya kami tipu kalau kami bakal tidur di mobil.
“Beneran kalian nginep di mobil?”
“Iya.”
“Kasihan. Jangan lupa ya beli ini, masang anu, bla bla bla….”
Jleb. Ternyata penderitaan kami (walaupun pura-pura) tidak mengetuk pintu hati mereka. Yang mereka pikirkan hanyalah “Tenda sudah dipasang, aku sudah dibeli, dan sebagai dan sebagainya”. Sakit hati? Banget. Namun sakit hati ini tidak dapat dibandingkan dengan sakit hati pada malam hari, beberapa paragraf setelah ini.
Setelah berpesta pora menghabiskan setengah sisa dana makanan di Saung Sari dengan Stroberi gorengnya yang adiktif, kami berpesta molen nanas di kota, barulah kami pulang ke rumah untuk tidur, setelah sebelumnya menyelesaikan beberapa pekerjaan, membeli air mineral dus misalnya.
02.00 WIB. Kedinginan di ruangan tempat kami menginap, karena dari sela-sela jendela angin dingin berhembus. Dan di tengah penderitaan kami, Abhi pun mengucapkan kata-kata di bawah ini:
“Sabodo teuing dibilang MT. Gua mau pake sleeping bag gua, mau apa lu pada?”
Jleb. Jleb. Di tengah penderitaan kami, Abhi dengan sinisnya menunjukkan sisi sebenarnya dengan tidur di dalam sleeping bagnya di hadapan kami yang sedang menggigil kedinginan! Terkutuk kau Abhi!
Besok pagi disapa oleh sms dari Echi, si PJ Makrab:
“Rod, bisa tolong cariin keyboard dan pemainnya?”
Hah? Nambah kerjaan u Chi!
Akhirnya hari Selasa dihabiskan dengan mengawasi pemasangan tenda, pencarian keyboard dan pemainnya untuk makrab dengan warga, mengambil surat di Dinkes, menggambar denah tempat tinggal dan meminta izin untuk memasangnya (ternyata masih ada orang seperti Pak Atang, Kepala Dusun yang menunjukkan kami rumah-rumah yang akan ditempati, yang menolak ucapan terima kasih berupa uang. Luar biasa. Salut untukmu Pak!) dan akhirnya selesai sudah tugas kami tim advance. Namun, sebuah kata-kata terkutuk, lagi-lagi diucapkan oleh Yang Terkutuk Abhi, “Jadi kita sudah bisa santai kan?” menyebabkan kami mendapat tugas mendadak keesokan harinya.
Sarapan mie instan di warung di kota (dan ternyata warung di seberang Balai Desa jual mie instan juga. Sial!), makan siang hasil belanja tim yang ke Dinkes, makan malam kami berpesta di sebuah tempat ayam bakar kecil yang dibuka oleh sebuah rumah tangga di depan rumah mereka. Ternyata jauh-jauh ke Ciwidey cuma makan ayam bakar tidaklah mengecewakan. Rasanya luar biasa!
Rabu pagi diawali oleh kutukan Abhi; sebuah sms dari Ijun, si Pj Transportasi.
“Bhi, cariin truk buat ngangkut anak-anak. Sopir busnya gak berani ke Rawabogo. Beraninya cuma sampai kota.”
Dan kami para pembantu umum yang malang pun kembali ke kota untuk mencari truk. Akhirnya dengan nego susah payah (mana mahal lagi, miskalkulasi lagi) kami berhasil mendapatkan truk untuk mengangkut anak-anak dengan bantuan Pak Wahid, salah satu perangkat desa. Terima kasih Pak! Tapi ternyata truknya telat, super telat, dan baru tiba beberapa jam setelah busnya tiba di tempat pertemuan (walaupun busnya berangkat telat juga. Napa sih orang Indonesia suka telat?). Akhirnya acara pembukaan dibatalkan dan digabung dengan acara makrab dengan warga.
Setelah mengantarkan anak-anak ke rumah masing-masing (sempat kelewatan satu rumah), akhirnya saya pulang, mandi, dan siap utnuk acara baksos pertama, makrab dengan warga.
“Rod, lu udah bilang kan kalo pakaian penyanyinya jangan seksi-seksi?”
“Hah? Pak Kadesnya nanya mau seksi ato gak, w bilangnya seksi.”
“HAAAAH? Tanggung jawab sama Adrin lo!”
Makrab warga berlangsung dengan cukup baik, walaupun sangat telat akibat Pak Camat telat satu jam tanpa merasa bersalah. Terkutuk kau Pak! Diawali dengan Reog, semacam Lenongnya Orang Sunda (Gak ngerti. Ngomongnya pake bahasa Sunda), Angklung persembahan angkatan, dan akhirnya ditutup dengan dangdutan (Terima Kasih Windy yang berusaha ngedangdut, dan terima kasih juga untuk Sondang yang malu-malu kucing goyangnya). Ngomong-ngomong, penyanyinya pake jilbab gak niat, rambutnya masih ngekor di balik jilbabnya. Ck ck ck. Si Adrin kayanya bisa kena serangan jantung. Angkatan yang mulai kebosanan dan mulai berpulangan sendiri, juga karena kedinginan (Gue bilang juga apa? Dibilang dingin malah anggap remeh. Wajib bawa jakun, akhirnya jaketnya dikeluarkan. Alasan, berat. Rasain!). Hari itu ditutup dengan evaluasi.
Hari kedua baksos, hari keempat saya di Rawabogo, dimeriahkan dengan acara Pengobatan Massal (yang cuma mendapatkan 400an orang dari target 650. Gak papa Nip, memang katanya susah dapet segitu. Mungkin memang kerja kita yang terlalu lambat, tapi kan juga ada faktor dari luar), sirkumsisi (target 40, daftar 13, dateng 7. Katanya memang orang di sono gengsian kalo soal Khitanan Massal Dhil. Gak papalah), bazaar (walau banyak masalah, terselesaikan dengan manis kan Wanda?), Taman Bacaan (Mantep Kev, walaupun u gak bisa hadir. Untung ada Upi. Jadinya dia sakit deh, hehehe), dan Penyuluhan Anak (yang benar-benar melewati target). Hari itu juga dimeriahkan oleh pencak silat, debus, celempungan, gratis dari desa, sebuah pedagang kaki lima yang menjual kaos bergambar Manohara (astagfirullah), pedang-pedangan yang bikin ngiler (kayanya jiwa anak-anak w masih belum hilang), dan aneka jajanan khas SD (kayanya kalo bikin Festival Nostalgia Jajanan SD di FK bisa rame tuh). Banyak masalah, seperti panitia yang menghilang seakan tak peduli, orang-orang yang datang dan pergi bagaikan angin, banyaknya masalah sehari-hari sebuah baksos, namun hari itu tetaplah indah, apalagi ditutup dengan sebuah makrab penuh kejutan manis dari Tim Makrab (award ter- yang aneh-aneh, lagi-lagi w dapet yang aneh lagi, berpasangan dengan Nuril lagi, dua film yang manis, kembang api super mahal, konfeti, dan kenangan, betapa luar biasanya 2006).
Hari ketiga diawali dengan penyuluhan dewasa yang lagi-lagi, terlambat dimulai gara-gara Ibu-Ibunya telat dateng. Untunglah acara tersebut berlangsung sempurna, walaupun target tidak tercapai (50 orang), namun cukup bermanfaat. Ditutup dengan Penutupan dan Peresmian Taman Bacaan, panitia pun pulang dengan Truk (yang sempat membuat Abhi dan w bingung dan panik bagaimana nyesuaiinnya dengan Jumatan), naik bus (ada yang sempet beli Stroberi Goreng! Keterlaluan! Napa gak bilang-bilang? Kan bisa nitip!), dan akhirnya baksos SOLACE pun berakhir…. (dengan seseorang yang di-flirt mulu ama Kades. Rasain!)
Belum. Belum berakhir.
Di tengah perjalanan, saya terbangun di sebuah tempat yang asing. Terdengar pengumuman dari Ijun tercinta,
“Bagi yang mau beli oleh-oleh, ke kamar mandi, 30 menit….”
Boong banget. Ijun ngeluarin bus dari tol tanpa sepengetahuan semua orang dengan alasan semulia ini? Mustahil. Maka saya pun berkonspirasi bahwa Ijun menggunakan kekuasaannya dengan sewenang-wenang untuk membeli Ubi Bakar Cilembu buat Icha! Terkutuk kau Ijun (hahahaha)!
Dan akhirnya, sisa perjalanan dihabiskan (karena sudah gak bisa tidur lagi) dengan menonton beberapa orang karaokean, tertawa, dan bercanda, sambil tersenyum, mengenang baksos SOLACE ini, baksos terbaik se-FKUI, karena dilaksanakan oleh Angkatan 2006, angkatan terbaik se-FKUI, dan juga sambil melamun, betapa luar biasanya angkatan saya, betapa beruntungnya saya terjebak bersama mereka, dan bukan yang lain….
“2006 itu seperti permen N*no-Nan*, keras (SOLID), namun beraneka rasa, indah seperti pelangi, dengan warnanya masing-masing, bukannya membaurkan segala warna menjadi abu-abu yang, well, kelabu. Kita mungkin memiliki warna yang sekilas tidak menarik, kita mungkin memiliki warna yang hilang, namun semua itu, adalah warna 2006. Semua itu, menjadikan sebuah 2006, tetap 2006.”
Pendapat umum dari baksos ini adalah DINGIN. Namun, apakah pendapat pribadi kalian untuk SOLACE 2006/9, apa pendapat kalian tentang 2006?
PS: Ada yang nangis, gara-gara stroberi dia ketinggalan di bus. Begitu mau dikasih ama Adi, langsung sumringah. Buset dah, Ninis, kaya anak kecil aja.





