You are currently browsing the monthly archive for June 2011.

(Tulisan ini masih merupakan konsep kasar yang masih harus diperhalus tata bahasanya menjadi formal dan rapi)

Saat ini, masyarakat Indonesia menatap dokter dengan dua pandangan berbeda. Satu sisi memandang dokter sebagai Sang Suci dengan tablet-tabletnya. Tidak peduli sakit apa, dokter hanya perlu menatap dan menyentuh, dan bam!, keluarlah tablet-tablet sakti. Jika sudah setengah mati, berpindahlah ke rumah sakit, dengan infus (ini sudah wajib) dan jarum suntiknya, bam!, bereslah semuanya. Bagaimana jika pasien ternyata meninggal? Sudah kehendak Yang Kuasa.

Sisi yang lain menatap benci kepada dokter. Dokter hanyalah setan berjubah putih yang siap menyedot harta kekayaan tanpa peduli dengan pasien. Sombong, angkuh, dan serakah. Melihat pasien hanya selirik, lalu keluarlah berderet omong-kosong yang tidak perlu. Maka berlomba-lombalah mereka berobat ke luar negeri, dan yang terkapar pasrah di dalam negeri hanya bisa menatap benci sambil mencari pengacara.

Kedua hal ini berbuah dari satu hal yang sama; kedokteran paternalistik, setengah dewa, yang angkuh dan menganggap pasien sebagai bongkahan daging dengan penyakit-penyakitnya. Tak heran, kini kedokteran Indonesia berada dalam bencana. Dan sialnya, para dokter baru yang seharusnya melek, ternyata masih menganggap dirinya begitu anggun dan mulia, lupa menapakkan kakinya di dunia.

Kepada pihak pertama, makhluk setengah dewa pun putus asa. Mereka tak mau tahu apa, yang penting mereka sudah menunaikan sesajennya. Sekarang saatnya para dokter menyerahkan berkahnya, berupa pil dewa yang mampu menurunkan gula darah, darah tinggi, kolesterol, juga demam dan tidak enak badan. Tak peduli mereka dengan berbagai olahraga, kebersihan, pola makan, dan sebagainya. Bukan tugas mereka menjaga kesehatan. Itu tugas dokter. Maka mampuslah dokter-dokter kita yang mulia, beramai-ramai mereka menyajikan pil-pil dewa, termasuk di dalamnya pil sakti nan berkhasiat, antibiotik dan kortikosteroid.

Kepada pihak kedua, makhluk setengah dewa pun menjadi hamba. Para dokter hanya menjadi pelayan mereka, menghantarkan apa yang mereka minta. Akibatnya, omong kosong pun keluar semua. Pemeriksaan berlebihan, biaya dilebih-lebihkan, semua agar pesanan kelihatan mewah dan menawan. Ada yang puas, ada yang tidak. Sama, mampuslah para dokter kita yang mulia.

Masih banyak stereotip lainnya. Bahwa dokter layanan primer hanyalah sesuai namanya, dokter Puskesmas. Pusing, Keseleo, Masuk angin. Dokter yang bodoh istilahnya. Kalau kau punya harta, lebih baiklah langsung ke spesialis saja. Merekalah yang sebenarnya bijaksana. Tak heran layanan primer menjadi tak menarik. Para dokter berlari-lari mengambil spesialistik, dan habislah layanan primer kedokteran Indonesia.

Ada juga bahwa dokter adalah Yang Mengobati. Kalau tak sakit, tak perlulah ke mereka. Sakit sedikit, berobatlah segera. Akibatnya? Penyakit sepele pun berlimpah ruah, bercampur dengan penyakit yang sudah berat namun ditepis oleh yang sakit. Maka resmilah Puskesmas, Pusing, Keseleo, Masuk angin. Karena yang lain, tak mampu lagi dilihat dokter kita yang mulia.

Namun sekarang, semua itu sudah berlalu. Kedokteran saat ini menekankan pada prinsip pencegahan, yang berarti bahwa tombak layanan primer bukan lagi sekedar semboyan. Kini, kedokteran primer menjadi kunci layanan kesehatan. Idealnya, semua pasien harus melalui dokter keluarga mereka, dan hanya yang pentinglah yang akan dirujuk dan mencapai para dokter spesialis. Dokter keluarga bekerja tidak lagi mendulang pasien, namun berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kesehatan keluarga yang ia bina. Pencegahan kata kuncinya. Akibatnya, masyarakat dituntut untuk berpartisipasi aktif untuk menjaga kesehatan mereka. Tidak lagi hanya menunggu sampai terkena penyakit, baru berobat ke dokter.

Selain itu, para dokter dituntut untuk mengamalkan keempat etika profesinya. Beneficence, Non-maleficence, Autonomy, dan Justice. Untuk kebaikan pasien, tidak membahayakan pasien, sesuai keinginan pasien, dan kesetaraan semua pasien. Tidak ada lagi paternalistik, tidak juga hamba yang dikendalikan dengan uang.

Namun, semua ini hanya bisa terwujud jika sistem jaminan sosial sudah berjalan. Sebuah sistem di mana kesehatan tidak lagi merupakan biaya perorangan, namun menjadi biaya sebuah komunitas. Semoga.

Saya sudah lama sekali tidak menulis. Entah novel, entah artikel, entah puisi, entah cerpen, entah Buku Koass Bego. Saya sudah lama sekali tidak membaca buku-buku bagus. Saya sudah lama sekali tidak bermain-main dengan kanvas Photoshop. Saya sudah lama sekali tidak bermain-main dengan fantasy worldbuilding. Dan yang paling penting, saya sudah lama sekali menunda-nunda melakukan sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawab saya. Entah Buku Tahunan, entah seminar, entah yang lain. Saya sudah lama sekali tidak melakukan sesuatu yang bukan rutinitas, sesuatu yang membuat saya merasa hidup.

Procrastination kills me. Now, seriously, I need some Resurrection Spell or at least, Necromancy. Some slap will help too.

It’s long enough already for me to slack off. I’ve told myself again and again, to wake up and face the world. Now, I need to wake up for real.

Begins tonight. *insert battlecry here

Tak perlu dipungkiri, tidak semua dokter itu “bener”. Banyak dokter yang brengsek, seperti halnya semua profesi di dunia. Hanya saja, kebrengsekan dokter kadang didramatisir, sampai-sampai yang tidak brengsek juga menjadi ikut terseret.

Hal yang sama juga terjadi pada sebuah rumah sakit pemerintah bernama Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo. Rumah sakit yang lebih sering dikenal dengan sebutan “RSCM”, atau “Cipto” ini, jelas tak mungkin terhindar dari segala macam penjelek-jelekan nama baik. Rumah Sakit Cepat Mati, istilahnya. Apalagi, dengan jumlah staf yang begitu banyak (RSCM, jika menilik jumlah stafnya, sudah dapat dikategorikan sebagai industri besar), tidak termasuk para calon tenaga medis dan paramedis yang berkali-kali lipat banyaknya, tak heran jika RSCM menjadi sorotan. Angka kematian yang tinggi di rumah sakit ini, akibat dari posisi rumah sakit ini sebagai Pusat Rujukan Nasional yang menyebabkannya hampir selalu menerima pasien dengan kondisi lanjut, bahkan terminal, juga tidak memperbaiki keadaan.

Hal lain yang sering menjadi sorotan adalah “kekurangajaran” para calon dokter alias koass. Ketidaknyamanan pelayanan. Ketidaksopanan petugas. Dan masih banyak lagi hal-hal lain, yang pada akhirnya, dibanding-bandingkan dengan rumah sakit luar negeri, biasanya Singapura dan Malaysia. Rumah sakit, yang sayangnya, mereka lupa memiliki kondisi yang sangat jauh berbeda dengan rumah sakit yang menjadi bandingan mereka.

Saya tidak akan menyalahkan mereka yang begitu tidak sukanya dengan RSCM. Saya juga tidak akan membenarkan mereka yang tidak memberikan pelayanan semaksimal yang bisa mereka berikan. Saya hanya ingin mengingatkan, bahwa mereka juga manusia. Bisa lelah, bisa marah. Bekerja selama 8 jam, 12 jam, sampai 24 jam, tanpa henti, jelas melelahkan dan memancing emosi. Namun tidak, saya tidak akan membenarkan mereka.

Saya di sini juga tidak akan mempertanyakan apakah mereka yang mengamuk di luar sana, berteriak-teriak soal malpraktek, tahu bahwa bentuk tulisan yang benar sebenarnya adalah malapraktik. Bahwa semua kematian bukan berarti adalah malapraktik. Bahwa semua kesalahan di RSCM, begitu ketahuan, akan mendapat hukuman yang berat, diketahui ataupun tidak oleh publik. Tidak, saya tidak akan menanyakan hal tersebut.

Yang ingin saya pertanyakan adalah, mengapa hal buruk begitu cepat menyebar, tidak peduli dengan kebenarannya. Namun, hal baik tidak pernah terkabarkan sedikitpun ke dunia. Padahal, sepertinya semua agama mengajarkan bahwa mengucapkan hal yang benar adalah sesuatu yang wajib. Musavada Veramani Sikkhapadam Samadiyami. Saya bertekad untuk melatih diri untuk menghindari berucap yang tidak benar.

Tidak banyak yang tahu, FKUI-RSCM menurunkan stafnya untuk baksos, bencana, dan sebagainya. Tidak banyak yang tahu, entah berapa pasien yang tidak mampu yang diizinkan berhutang dahulu, sambil segala surat menyurat jaminan kesehatan diurus oleh keluarga. Tidak banyak yang tahu, berapa tuna wisma yang diantarkan ke RSCM, yang dibiayai seluruh biaya pengobatannya oleh rumah sakit. Tidak banyak yang tahu, entah berapa anak terlantar yang diletakkan seenaknya di ruang bayi, dan ibunya kabur entah ke mana, yang akhirnya semua biaya hidupnya ditanggung oleh RSCM sampai Depsos mampu menempatkan bayi tersebut di panti asuhan. Oh tidak, tidak banyak yang tahu.

Tidak banyak yang tahu, betapa banyak para dokter-dokter, dan calon-calon dokter, dan entah berapa berbagai petugas, perawat, dan calon perawat yang rela menghabiskan waktu mereka hanya untuk tempat pasiennya curhat. Yang akhirnya melanggar sumpah mereka sendiri dengan membiayai perawatan pasien tersebut. Yang membuang waktu di luar jam kerja mereka karena keluhan pasien, sederhana maupun kompleks. Yang berusaha sekuat tenaga mereka, berusaha menekan agar biaya yang keluar adalah biaya yang efisien, semua tindakan sesuai dengan kebutuhan dan ilmu terkini, tidak seperti rumah sakit yang terkenal di “sana”. Oh tidak, tidak banyak yang tahu.

Entah kapan mereka akan tahu. Atau mungkin, entah kapan mereka akan peduli. Tapi siapa aku, berani mendikte mereka? Aku hanya seorang koass belaka. Yang cuma memanfaatkan mereka saja.

Rodri Chen A.K.A Zoethaeque

adalah seorang mantan mahasiswa kedokteran di Universitas Indonesia, angkatan 2006 (tersangka ditahbiskan menjadi dokter tanggal 24 September 2011). Keturunan Tionghoa, seorang Buddhis, dan seorang Idealis. Dicurigai memiliki gangguan manik-depresif dan obsesif-kompulsif ringan terhadap tata bahasa, serta sedikit waham, maka dokter menganjurkannya untuk menulis agar mampu menghilangkan ide bodoh dari kepalanya.

Daftar Coretan Bodoh

June 2011
M T W T F S S
« Sep   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Beberapa Lencana Saja

Internet Sehat
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
100 Blog Indonesia Terbaik
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.