Dulunya http://zoethaeque.wordpress.com, namun untuk kemudahan mengingat alamat, maka dipindah kemari.

Darah berarti intinya
Perak berarti mulia
Pelangi berarti aneka warnanya

Aku menangkap seekor pelangi dengan panca indera
Menggores kakinya dan mencuri setetes darahnya dengan jiwa
Menyaring permukaan peraknya dengan asa
Mengambil Darah Perak Pelangi dan menjadikannya tinta

Menggoresnya dengan bulu pena
Di atas kanvas putih maya tujuh aksara
Lalu membentangkannya di atas langit putih bernama kata

Darah Perak Pelangi
Goresan tinta aneka warna
Melukiskan hidup yang juga beraneka warna
Dari sudut pandang saya
Hanya sekedar celoteh belaka

Selamat membaca
Jangan lupa meninggalkan tinta maya anda
Walau sekedar sapa belaka

“Napa tertarik masuk Senat, Dek?”
“Oh, soalnya ngerasa sayang aja Kak, kalo ke kampus cuma buat kuliah.”
“Ow. kalo misalnya nih, kamu disuruh milih antara akademis atau organisasi, pilih mana?”
“Ya akademis lah kak. Soalnya itu kan amanah dari ortu.”

Salah satu poin besar yang ditekankan kepada saya ketika menginjakkan kaki di FKUI adalah “Kamu itu mahasiswa, bukan siswa lagi Dek!”. Namun, penekanan itu hanya sekedar omongan belaka, tidak ada tindak nyata selain usaha yang disebut sebagai “pola pikir dan tingkah laku yang dewasa”. Sesuatu yang menurut saya, omong kosong dan tidak berhubungan dengan posisi saya sebagai mahasiswa, dan bukan siswa lagi. Itu masalah dengan kata “dewasa”, bukan “mahasiswa”. Dan setelah bertarung dengan sekian banyak hal dalam dunia kemahasiswaan ini, saya akhirnya bisa mengambil kesimpulan yang paling sederhana dari kemahasiswaan; apa yang membuat ia berbeda dengan “siswa”.

SD, SMP, SMA, hanyalah sebuah jenjang pendidikan formal. Sama sekali berbeda dengan kuliah, yang sudah “terspesialisasi” bidangnya dan juga sudah mempersiapkan peserta didiknya untuk menginjakkan kaki di bidang kerja dan dunia “orang dewasa”. Namun, mirisnya, sistem pendidikan tinggi formal kita masihlah berbentuk seakan-akan sebuah kenaikan kelas saja dari SMA, sama sekali tidak menyiapkan seorang tunas bangsa siap kerja, baik dari segi ilmu maupun pola pikir dan tingkah laku. Atau dalam sistem pendidikan kedokteran, seorang “seven star doctor”. Pendidikan formal saat ini hanya bisa menyiapkan seorang “dokter” saja. lalu, bagaimana profesionalitas tersebut dapat kita peroleh? Banyak cara, namun universitas menawarkan sebuah sistem, yang disebut dunia kemahasiswaan.

Dunia kemahasiswaan ada bukan hanya sekedar ekstrakurikuler layaknya SMA, di mana hal tersebut hanya sekedar tambahan mengisi waktu luang. Dunia kemahasiswaan, dalam hal ini organisasi, dalam hal ini menjadi pokok penting dalam pembentukan seorang manusia siap tempur dalam lapangan kerja nantinya. Akibatnya, sungguh sebuah perbedaan besar ketika seorang mahasiswa, dalam hal ini mahasiswa kedokteran, hanya berkutat dengan buku-bukunya. Nantinya, dalam masa kepaniteraan, barulah terlihat calon-calon dokter yang hanya bisa mendekati pasien dengan otaknya saja, namun tidak dengan hatinya. Hal ini dikarenakan bahwa mahasiswa tersebut hanya terkungkung dalam buku-buku tebal kedokteran, tanpa mengenal manusia secara seutuhnya, atau istilah kerennya, holistik dan komprehensif.

Usaha Dekanat untuk menetapkan SKS pada kegiatan kemahasiswaan mungin merupakan langkah baik dalam membentuk para seven star doctor tersebut. Namun, yang paling penting adalah pembentukan pola pikir sejak dini pada mahasiswa baru, bahwa dunia kemahasiswaan bukan hanya sekedar nilai SKS dan sebaris tulisan dalam CV, namun memegang peranan penting, sejajar dengan pendidikan formal, dalam pembentukan seorang dokter yang baik. Seorang yang hanya mementingkan pendidikan formal hanya akan lahir menjadi seseorang yang mempunyai gelar dokter saja. Seseorang yang hanya mementingkan organisasi hanya akan lahir menjadi seorang pecundang. Namun, seseorang yang mampu menyeimbangkan keduanya, dalam hal ini tidak mendahului salah satunya, akan menjadi seorang dokter yang sebenarnya, atau istilah FKUI sebagai “seven star doctor”.

Pendidikan formal dan pendidikan informal harus bisa sejajar dalam pelaksanaannya sebagai seorang mahasiswa, untuk membentuk seorang yang layak kerja.

Cat: Penulis menegaskan sekali lagi bahwa pendidikan informal di sini tidak harus berbentuk dunia kemahasiswaan dan organisasinya. Masih banyak jalur di luar sana, namun kampus menyediakan yang satu ini.

Hari ini, malam ini
Ketika bulan tersenyum berseri
Aku di sini, berlutut di atas satu kaki
Aku meminangmu atas nama cinta

Masihkah kau ingat detik pertama kita bersua?
Masihkah kau ingat detik pertama kita berdansa?
Masihkah kau ingat detik pertama kunyatakan cinta?
Masihkah kau ingat senyum malumu waktu itu, tawa tak percayamu waktu itu, kerut keningmu waktu itu?

Karena, maaf
Aku tak ingat itu semua

Aku hanya seorang lelaki tak berjiwa
Yang tak mampu merekam itu semua
Dalam jiwaku, dalam hatiku, untukmu sang kunci asa

Aku hanyalah seorang bajingan yang masih melirik setiap gadis ayu yang bertukar langkah dengan kita
Aku hanyalah seorang lelaki tak sempurna yang membuatmu menangis selalu
Aku hanyalah seorang lelaki
Yang tak akan pernah mengerti
Betapa berharganya setiap detikku bersama dirimu
Dan betapa aku hampir menghancurkan itu

Dan aku di sini, masih berlutut di atas satu kaki
Mengenang setiap detik samar dirimu bersamaku
Memberanikan diri walau tanpa mas kawin apa-apa

Aku meminangmu, atas nama cinta
Hanya cinta
dan akan selalu cinta

Aku mencintaimu dengan sebuah cinta abadi
Cinta yang tidak akan mati
Sampai aku mati

Dan dengan ini,
Aku, lagi-lagi masih berlutut di sini
Meminangmu, atas nama cinta

Dipersembahkan untuk sepasang mempelai baru pada hari pernikahan mereka, Toa Koko, Hendrik Tanoto dan Toa So, Fung Yin θ’‹ (蒋净云)

Kepadamu, BPH KMBUI XVII
Kepadamu, KMBUI 2006

Sejujurnya, empat tahun yang lalu, aku hanya seorang bocah SMA yang angkuh, bodoh, namun tidak tahu diri. Sampai kemudian, aku dijebak oleh kakakku sendiri untuk masuk dalam sebuah neraka bernama KMBUI.

Sebuah neraka, karena siksa deritanya yang membuatku kehilangan waktuku untuk berhura-hura, berpesta-pesta, hanya untuk sepotong perjalanan jauh ke suatu tempat, hanya untuk bekerja, untuk sesuatu yang aku takkan pernah tahu manfaatnya.

Namun, dengan bodohnya, aku mencintai setiap detik itu. Setiap detik aku berada di KMBUI. Setiap detik aku menjerumuskan semakin dalam jengkal demi jengkal. Dan aku, tergila-gila akan hal tersebut. Sampai akhirnya aku melompat ke jurang terlarang, sebagai BPH KMBUI XVII.

Dan aku mengenal Hermando Firgus, hakim, penengah, pendamai dari setiap panas dan dingin dari BPH XVII. Orang yang paling berubah dari detik aku mengenal setiap BPH XVII. “Kembaran”, atau mungkin saingan, dalam segala hal dengan diriku sendiri. KMBUI mengubah dia menjadi lebih baik, dan ia mengubah KMBUI ke arah yang lebih baik pula.

Dan aku mengenal Jenny Yeonardy, bawel, ceria, iseng, ramah, dan setia kawan. Primadona angkatan, namun entah naif, entah pura-pura tak tahu, mengaku dirinya tak laku. Ia ada untuk “menerangi” KMBUI 2006.

Dan aku mengenal Mei Linda. Pendiam, tampang kesan pertama sama persis dengan saya, JUTEK (hahaha), rajin, tepat waktu, teliti, dan tegar di balik tubuhnya yang kurus. Profesional, disiplin, BPH XVII karena dia.

Dan aku mengenal Wahyudi. Pendiam, kalem, ramah. Jenius dalam hal komputer mengkomputer. Salah satu yang paling religius, ia menurunkan suasana terik menjadi damai kembali.

Dan aku mengenal Cindy. Sedikit telmi, ceria, dan suka bingung. Yang religius, yang pintar dalam hal Buddhisme, ialah yang memberikan warna Buddhisme dalam BPH XVII, agar tetap lurus dalam jalan Buddha Dharma.

Dan aku mengenal Ferry Hartanto. Diam pada awalnya, celetukannya langsung mengenai sasaran. Mendadak, dan menimbulkan dua efek berbeda. Antara kau akan tertawa, atau kau akan takjub, masalah selesai adanya. Ferry, salah satu pelawak kita, tendangannya sudah terkenal dalam dunia Tae-Kwon Do.

Dan aku mengenal Suria. Kalem, sipit, rajin, peduli, dan mampu merangkul semuanya. Ia ada untuk dikerjai, namun ia hanya tertawa bersama, mewarnai hidupnya BPH XVII dengan pemikirannya yang cemerlang.

Dan aku mengenal Hartono. Pelawak sejati, hidupnya ada untuk menertawai dunia dan teman-temannya. Namun di balik konyolnya, ia seorang yang sangat peduli pada adik-adik juniornya, namun sayangnya masih juga belum berpasangan.

Dan aku mengenal Indah Chandra. Ramah, rajin, pendiam, namun ia mampu menanggulangi sebuah beban yang cukup berat bagi orang lain, mungkin karena tubuhnya yang lebih perkasa.

Dan aku mengenal Cakra Putra. Orang lurus yang meluruskan kembali BPH XVII ketika sudah melenceng dari jalurnya. Disiplin, kritis, ia ada untuk sebuah KMBUI yang lebih baik.

Suka duaka kita lalui bersama. Tujuannya sama, untuk memberikan yang terbaik pada kita semua. Bersama telah kita bekerja. Bersama kita telah tertawa, menangis, marah, namun itu semua, tak ada apa-apanya ketika hari itu, aku melihat KMBUI diwariskan dalam keadaan yang lebih baik. Artinya, kerja kita tidak sia-sia. Walaupun kecil, kita berhasil mengukir sesuatu yang berbeda.

Namun bukan itu saja. Bersama kalian, aku bertambah dewasa. Bertambah memahami arti dunia. Bersama kalian, aku lebih mencintai dunia. Bersama kalian, aku siap menyongsong dunia. Bersama kalian, para sahabatku.

Malam ini, ketika aku mengenang kembali detik-detik BPH XVII, ketika beban tersebut telah kulepas, aku berbangga, karena tanggung jawab itu tak hanya diberikan begitu saja. BPH XVII telah mengukir KMBUI yang lebih baik. BPH XVII juga telah mengukir hidupku yang lebih bermakna.

I love you all. Tanpa kalian, aku hanya seorang katak dalam tempurung.

Hari ini, aku melihat tawa
Hari ini, aku melihat tangis
Hari ini, aku melihat etika
Hari ini, aku melihat tragis
Hari ini, aku melihat nyawa
Hari ini, aku melihat mati

Hari ini, aku tercenung, murung
Merenung

Aku tak ingin jadi mereka lagi

Mungkinkah?

Hari ini aku mengerti
Arti kata sebuah ironi
Arti kata sebuah munafik

Antara pergi, atau mengulang sekali lagi

Hari ini, aku melihat ironi

“Ngapain gua peduli? Yang lain juga gak peduli. Apa bedanya?”
“Kok gua gak boleh? Yang lain juga ngelakuin kok. Apa bedanya cuma satu orang?”
Atau yang paling sering:
“Yang lain juga ribut kok. Kok gua doang yang dimarahin?”

Kalimat di atas sering sekali saya dengar, dalam kasus apapun. Meminta tolong, menegur, apapun itu. Alasan selalu demikian; bahwa satu orang saja tidak berarti apa-apa.

Judul di atas bukannya sok bahasa Inggris atau apa, melainkan sebuah penekanan penting pada sebuah kata One dalam bahasa Inggris, yang berarti satu; juga berarti seseorang. Artinya, satu saja dapat mengakibatkan perubahan; siapapun dapat mengakibatkan perubahan. Walaupun cuma seorang.

Dikit-dikit lama-lama jadi bukit. Peribahasa ini sepertinya sudah sangat terkenal di kalangan semua orang yang pernah menginjak bangku sekolah SD. Namun, tidak banyak yang memahami artinya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semuanya mengharapkan sesuatu yang serba instan, yang langsung kelihatan hasilnya. Mana mungkin?

Seandainya saja semua orang di dunia ini menyadari betapa pentingnya diri mereka sendiri, betapa besarnya perubahan yang dapat mereka sendiri lakukan, maka tulisan ini tidak perlu ada. Seandainya semua orang menyadari bahwa sampah harus dibuang pada tempatnya, maka tak ada lagi diperlukan tulisan peraturan “Dilarang buang sampah di sini!” Semua itu berasal dari satu hal; dari diri sendiri. Dari sebuah ketunggalan. Dari satu orang saja. Satu orang ditambah satu orang dan seterusnya akan berujung pada semua orang. Sederhana? Sederhana. Semua berawal dari satu orang saja.

Seandainya, seandainya saja, hanya satu orang yang menyadari hal tersebut. Apakah perbuatannya sia-sia? Apakah jika seseorang berhenti saja merokok satu batang perhari, bukankah ia sudah menghemat 365 batang rokok setahun? Dalam setahun dia sudah bisa membeli ponsel baru. Dan jika sesuatu yang ia perbuat adalah sebuah hal yang besar, bukankah ia akan menjadi inspirasi untuk orang lain?

Florence Nightingale hanya seorang perawat, namun ia sekarang menjadi inspirasi banyak orang dalam hal keperawatan yang sepantasnya. Mother Theresa hanya sendiri, namun kini ia menjadi panutan banyak orang, bahkan kini telah berdiri sebuah yayasan bernama Missionaries of Charity. Mahatma Gandhi, menjadi inspirasi untuk orang-orang seperti Martin Luther King, Nelson Mandela, Aung San Suu Kyi, dan sebagainya. Dan orang-orang besar itu menginspirasi orang lain, tidak dengan ucapan, namun dengan perbuatan. Apa yang mereka perbuat diawali oleh sebuah hal kecil saja. Sang Buddha pada awalny sempat berpikir untuk tidak mengajar, namun ajaran pertamanya kepada 5 orang saja menjadi awal sebuah agama terbesar di dunia. Sebagian besar langkah besar diawali oleh satu orang saja, dan satu perbuatan kecil saja.

Sebuah cerita kecil dalam bahasa Inggris, tidak diketahui pengarangnya, tidak diketahui kapan ditulis, namun semoga dapat menginspirasi.

This is a little story about four people named Everybody, Somebody, Anybody, and Nobody.

There was an important job to be done and Everybody was sure that Somebody would do it.

Anybody could have done it, but Nobody did it.

Somebody got angry about that because it was Everybody’s job.

Everybody thought that Anybody could do it, but Nobody realized that Everybody wouldn’t do it.

It ended up that Everybody blamed Somebody when Nobody did what Anybody could have done !

Seandainya saja, seseorang (Somebody) memutuskan untuk melakukan sesuatu, maka cerita di atas tidak akan pernah lahir.

Jadi? One makes a difference. Do it now!

Rodri Chen A.K.A Zoethaeque

adalah seorang Mahasiswa Kedokteran di Universitas Indonesia, angkatan 2006. Keturunan Tionghoa, seorang Buddhis, dan seorang Idealis. Dicurigai memiliki gangguan manik-depresif dan obsesif-kompulsif ringan terhadap tata bahasa, serta sedikit waham, maka dokter menganjurkannya untuk menulis agar mampu menghilangkan ide bodoh dari kepalanya.

Daftar Coretan Bodoh

February 2010
M T W T F S S
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Beberapa Lencana Saja

Internet Sehat
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
100 Blog Indonesia Terbaik