Dulunya http://zoethaeque.wordpress.com, namun untuk kemudahan mengingat alamat, maka dipindah kemari.

Darah berarti intinya
Perak berarti mulia
Pelangi berarti aneka warnanya

Aku menangkap seekor pelangi dengan panca indera
Menggores kakinya dan mencuri setetes darahnya dengan jiwa
Menyaring permukaan peraknya dengan asa
Mengambil Darah Perak Pelangi dan menjadikannya tinta

Menggoresnya dengan bulu pena
Di atas kanvas putih maya tujuh aksara
Lalu membentangkannya di atas langit putih bernama kata

Darah Perak Pelangi
Goresan tinta aneka warna
Melukiskan hidup yang juga beraneka warna
Dari sudut pandang saya
Hanya sekedar celoteh belaka

Selamat membaca
Jangan lupa meninggalkan tinta maya anda
Walau sekedar sapa belaka

Hari ini, aku melihat tawa
Hari ini, aku melihat tangis
Hari ini, aku melihat etika
Hari ini, aku melihat tragis
Hari ini, aku melihat nyawa
Hari ini, aku melihat mati

Hari ini, aku tercenung, murung
Merenung

Aku tak ingin jadi mereka lagi

Mungkinkah?

Hari ini aku mengerti
Arti kata sebuah ironi
Arti kata sebuah munafik

Antara pergi, atau mengulang sekali lagi

Hari ini, aku melihat ironi

“Ngapain gua peduli? Yang lain juga gak peduli. Apa bedanya?”
“Kok gua gak boleh? Yang lain juga ngelakuin kok. Apa bedanya cuma satu orang?”
Atau yang paling sering:
“Yang lain juga ribut kok. Kok gua doang yang dimarahin?”

Kalimat di atas sering sekali saya dengar, dalam kasus apapun. Meminta tolong, menegur, apapun itu. Alasan selalu demikian; bahwa satu orang saja tidak berarti apa-apa.

Judul di atas bukannya sok bahasa Inggris atau apa, melainkan sebuah penekanan penting pada sebuah kata One dalam bahasa Inggris, yang berarti satu; juga berarti seseorang. Artinya, satu saja dapat mengakibatkan perubahan; siapapun dapat mengakibatkan perubahan. Walaupun cuma seorang.

Dikit-dikit lama-lama jadi bukit. Peribahasa ini sepertinya sudah sangat terkenal di kalangan semua orang yang pernah menginjak bangku sekolah SD. Namun, tidak banyak yang memahami artinya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semuanya mengharapkan sesuatu yang serba instan, yang langsung kelihatan hasilnya. Mana mungkin?

Seandainya saja semua orang di dunia ini menyadari betapa pentingnya diri mereka sendiri, betapa besarnya perubahan yang dapat mereka sendiri lakukan, maka tulisan ini tidak perlu ada. Seandainya semua orang menyadari bahwa sampah harus dibuang pada tempatnya, maka tak ada lagi diperlukan tulisan peraturan “Dilarang buang sampah di sini!” Semua itu berasal dari satu hal; dari diri sendiri. Dari sebuah ketunggalan. Dari satu orang saja. Satu orang ditambah satu orang dan seterusnya akan berujung pada semua orang. Sederhana? Sederhana. Semua berawal dari satu orang saja.

Seandainya, seandainya saja, hanya satu orang yang menyadari hal tersebut. Apakah perbuatannya sia-sia? Apakah jika seseorang berhenti saja merokok satu batang perhari, bukankah ia sudah menghemat 365 batang rokok setahun? Dalam setahun dia sudah bisa membeli ponsel baru. Dan jika sesuatu yang ia perbuat adalah sebuah hal yang besar, bukankah ia akan menjadi inspirasi untuk orang lain?

Florence Nightingale hanya seorang perawat, namun ia sekarang menjadi inspirasi banyak orang dalam hal keperawatan yang sepantasnya. Mother Theresa hanya sendiri, namun kini ia menjadi panutan banyak orang, bahkan kini telah berdiri sebuah yayasan bernama Missionaries of Charity. Mahatma Gandhi, menjadi inspirasi untuk orang-orang seperti Martin Luther King, Nelson Mandela, Aung San Suu Kyi, dan sebagainya. Dan orang-orang besar itu menginspirasi orang lain, tidak dengan ucapan, namun dengan perbuatan. Apa yang mereka perbuat diawali oleh sebuah hal kecil saja. Sang Buddha pada awalny sempat berpikir untuk tidak mengajar, namun ajaran pertamanya kepada 5 orang saja menjadi awal sebuah agama terbesar di dunia. Sebagian besar langkah besar diawali oleh satu orang saja, dan satu perbuatan kecil saja.

Sebuah cerita kecil dalam bahasa Inggris, tidak diketahui pengarangnya, tidak diketahui kapan ditulis, namun semoga dapat menginspirasi.

This is a little story about four people named Everybody, Somebody, Anybody, and Nobody.

There was an important job to be done and Everybody was sure that Somebody would do it.

Anybody could have done it, but Nobody did it.

Somebody got angry about that because it was Everybody’s job.

Everybody thought that Anybody could do it, but Nobody realized that Everybody wouldn’t do it.

It ended up that Everybody blamed Somebody when Nobody did what Anybody could have done !

Seandainya saja, seseorang (Somebody) memutuskan untuk melakukan sesuatu, maka cerita di atas tidak akan pernah lahir.

Jadi? One makes a difference. Do it now!

Seorang profesor fakultas kedokteran masuk ke ruangan kelas, di tengah kehebohan para mahasiswa yang tak peduli pada dosennya, selama kuliah belum dimulai. Apalagi, kuliah Modul Empati ini cukup membosankan, kata senior-senior.

Sang profesor hanya berjalan tenang, menghampiri laptop yang ada, dan memasukkan sebuah flashdisk ke dalamnya. Mendadak, sebuah film pun terbuka. Sang profesor mendekatkan mikrofon ke speaker laptop tersebut.

Seketika saja ruangan itu terdiam, menatap film yang diputar profesor tersebut. Di sana tertayang sebuah adegan film biru, lengkap dengan suaranya yang membahana di seluruh ruangan. Sebagian besar wanita, terutama yang berjilbab, langsung menunduk jengah. Beberapa mahasiswi masih bertahan menonton, bersama seluruh mahasiswa, walaupun sebagian kecil mahasiswa menundukkan kepalanya juga. Yang menonton memiliki ekspresi wajah yang berbeda-beda pula. Ada yang tersenyum simpul, ada yang tertawa cekikikan, ada pula yang tertawa jengah. Namun banyak pula yang menonton dengan tenang. Namun yang jelas, para lelaki mulai mengubah posisi duduknya berkali-kali.

Namun semuanya mulai berubah ketika adegan berubah menjadi adegan anal antara dua orang pria. Seketika itu juga, sebagian besar penonton langsung menunduk jengah, bahkan jijik. Suara maskulin yang terangsang yang masih membahana di ruangan itu seakan membisukan mereka semua.

Namun film itu tak berhenti sampai di situ. Adegan berubah menjadi hubungan seks dengan bervariasi binatang, bahkan aneka parafilia (kelainan seksual) yang pernah direkam hampir semuanya tertayangkan dalam film 30 menit itu. Dan akhirnya, ketika layar sudah menghitam, masih belum ada mahasiswa yang bersuara, semuanya masih sibuk dengan dirinya sendiri, tanpa ada yang menyadari bahwa film sudah selesai. Suara film masih terus membahana, sedangkan layar sudah menggelap. Tak ada yang menyadari.

Ketika akhirnya suara tersebut membisu, semua mahasiswa mengangkat kepalanya, menatap profesornya dengan bertanya-tanya. Bahkan, beberapa mahasiswa menatap profesor tersebut dengan tatapan sinis.

Si profesor, masih menatap tenang mahasiswa-mahasiswanya, akhirnya mengangkat mikrofon ke arah bibirnya.

“Ini cuma sebuah film. Bagaimana nanti kalau kalian sudah bertemu pasien? Jika ada tingkah laku pasien, cerita pasien, yang menurut kalian aneh, menurut kalian lucu, menurut kalian menjijikkan, menurut kalian memuakkan, apakah kalian semua akan menunduk, jengah, jijik, dan tidak mendengarkan pasien? Sibuk dengan diri kalian sendiri, sehingga ketika layar sudah padam semenit, tinggal suaranya saja yang ada, tak ada seorangpun yang menyadari?”

Tak ada yang menjawab. Tak ada yang berani. Profesor itu kembali memutar adegan film selanjutnya. Adegan tersebut adalah wawancara dengan pasien skizofrenik, dengan ceritanya yang aneh dan lucu. Namun, kali ini, tak ada yang berani tertawa.

Hari ini, duduk tenang di atas tempat tidurku, aku tersenyum, menatap telepon selularku yang baru saja kumatikan.

Aku mencintaimu.

Aku tak tahu lagi bagaimana mengungkapkannya. Aku tak tahu apakah aku bisa mengukir dirimu, perasaanku padamu, dalam ribuan kata-kata indah yang selama ini kuukir dalam puisi maupun cerita. Tidak. Aku sebenarnya tahu. Tahu, bahwa aku tak mungkin bisa mengungkapkan hal tersebut. Rasa ini benar-benar menyelimuti setiap jengkal kalbuku.

Perasaan ini bukanlah perasaan meledak-ledak yang berbahaya bagi penderitanya. Perasaan ini bukanlah perasaan menyesakkan, perasaan malu, takut. Perasaan yang membuatku tersipu di hadapanmu, atau hanya dengan memikirkanmu.

Perasaan ini bukan perasaan membabi buta yang tak berguna. Perasaan ini bukanlah perasaan yang membuatku penuh nafsu, membuatku hendak merenggutmu masuk dalam kehidupanku, dan melenyapkan dirimu dari kehidupan yang lain. Bukan. Perasaan ini bukan perasaan egois seperti itu.

Perasaan ini adalah sebuah belaian lembut, perasaan yang membuatku nyaman. Membuatku tenang, karena menyadari ada seorang yang spesial dalam hidupku yang membuatku menanti setiap hari dengan penuh harap. Perasaan ini membuatku bersyukur atas hari berikutnya, hari berikutnya lagi, dan lagi.

Aku tak tahu apa namanya. Mungkinkah perasaan ini masih disebut cinta? Karena, aku tak pernah tahu perasaan ini sebelumnya.

Aku tahu bahwa kau bukanlah wanita yang sempurna. Hanya orang yang telah kehilangan inderanya yang bisa berkata begitu. Aku tak percaya bahwa cinta itu buta. Aku tahu baik burukmu, aku tahu cahya gelapmu.

Namun aku juga tahu, bahwa aku beruntung bisa memilikimu.

Ketidaksempurnaanmu bagaikan sesuatu yang melengkapi hidupku, sama halnya dengan sisi bercahaya dari dirimu.

Kau membuatku tertawa.
Kau membuatku tak bisa marah.
Kau membuatku semakin memahami diriku sendiri.

Kau membuatku sempurna.

Ah, katamu. Bisanya cuma ngegombal aja.

Ya, kataku. Mana mungkin ada sebuah kata yang dapat menggambarkan dirimu dan perasaanku? Yang terlahir hanyalah kata-kata gombal tolol ini.

Aku gombal? Ya, kataku. Karena tak mungkin lagi ada kata yang lebih mulia yang dapat menggambarkan semua ini.

Mengapa tiba-tiba aku menulis ini?

Entahlah.

Mungkin aku hanya ingin mengatakan

Aku mencintaimu.

Jika esok hari aku tak mungkin mengatakannya padamu

Aku akan menyatakannya sekarang.

Aku mencintaimu.

Mengapa? Tanyamu.

Tak ada yang tahu.

Semua lelaki itu buaya?
Semua wanita itu ular!

Buaya akan melahap semua ular, kecuali satu
Walau Sang Ular hanya bisa menyemburkan bisa
Walau Sang Ular hanya bisa menghancurkan saja
Namun Si Buaya akan tolol, jatuh, terbenam dalam lilitan Sang Ular
Tenggelam dalam reguk tetes bisa dalam darahnya

Hanya satu ular yang bisa
Mencengkramkan bisanya di tubuh Sang Buaya
Hanya karena ia serahkan tengkuknya
Kupas sisik durinya

Buaya boleh angkuh di hadapan semuanya
Tak peduli pada dunia
Namun Sang Ular akan menakhlukkannya

Rodri Chen A.K.A Zoethaeque

adalah seorang Mahasiswa Kedokteran di Universitas Indonesia, angkatan 2006. Keturunan Tionghoa, seorang Buddhis, dan seorang Idealis. Dicurigai memiliki gangguan manik-depresif dan obsesif-kompulsif ringan terhadap tata bahasa, serta sedikit waham, maka dokter menganjurkannya untuk menulis agar mampu menghilangkan ide bodoh dari kepalanya.

Daftar Coretan Bodoh

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Beberapa Lencana Saja

Internet Sehat
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
100 Blog Indonesia Terbaik